Segala Sesuatu Terjadi Karena Ada Hikmahnya

“Segala sesuatu itu terjadi karena ada alasannya” perkataan Mama saya pada suatu hari ketika saya baru saja tertimpa musibah akibat kelalaian saya sendiri. Waktu itu saya sedang mengambil kursus karena pelarian ke Pare, Kediri. Karena suatu urusan saya kembali ke Jakarta hari Jum’at dan harus kembali lagi hari Minggu, dikarenakan hari Senin saya masih harus mengikuti ujian. Tiket sudah dibeli, semuanya aman dan harusnya sesuai rencana kalau saja saya tidak lupa bahwa ini Jakarta, bukan lagi Pare yang bisa ditebak waktunya. Segalanya akan menjadi tidak tertebak di Jakarta. Jarak Paseban- Pasar Senen hanyalah berkisar 3,8 KM jika merujuk kepada Google Map, dan bisa ditempuh dengan waktu 7 menit jika menggunakan sepeda motor. Nyatanya Paseban-Pasar Senen bisa jadi memakan waktu setengah jam bahkan lebih kalau kita lagi apes.

rakhairiyah.com

 

Saat itu mungkin saya bukanlah apes, karena waktu yang saya tempuh bahkan tidak sampai 30 menit, hanya sekitar 20 menitan. Namun saya yang sudah terbiasa dengan waktu serba pasti selama di Pare, terbawa suasana dan lupa akan kondisi Jakarta. Akibatnya saya sampai di depan gerbang stasiun tepat di saat kereta baru saja jalan. Baru saja berangkat. Nangis, kesal, marah bahkan saya sampai mengumpat Tuhan. Iya, level kesal saya sampai di tahap tertinggi kala itu. Bagaimana tidak, ujian hari Senin itu sangat penting bagi saya ditambah, kereta yang baru saja berangkat itu adalah kereta terakhir yang bisa saya upayakan. Ditambah ketika saya menelepon orang tua, bukan kata-kata penenang, malah omelan yang saya dapat dari Ayah saya. Iya sih saya salah, dan Ayah saya paling benci dengan segala hal yang berbau keteledoran. Dan jelas saja beliau tidak mau membelikan tiket untuk saya. Ditambah lagi ATM yang tinggal beberapa ratus ribu. Ah lengkap sekali rasanya hari itu. Lengkap segala kesialan yang menimpa saya. Bahkan kata-kata “segala sesuatu itu terjadi karena ada alasan” yang disampaikan Mama saya saja saya abaikan. Saya abaikan sampai kemudian beneran kejadian…

Setelah duduk terpekur di pinggiran stasiun sambil mulai berfikir jernih, saya dapat informasi lewat internet kalau saya bisa pergi ke Kediri via Solo. Lalu saya menanyakan tiket keberangkatan ke Solo, dan ternyata masih tersedia, walau itu tiket Eksekutif -_-. Lebih mahal dan menguras habis isi ATM, “Tidak masalah yang penting bisa ujian” itu yang ada dalam benak saya. Kemudian saya minta adik saya untuk mengantar backpack ke Bandara dan menukar koper saya dengan backpack. Karena saya tau perjalanan akan sulit untuk ditebak, dan backpack jelas lebih ringkas dibandingkan koper. Dan itu menjadi perjalanan pertama saya ke Solo.


Setelah semua persiapan beres, saya masuk ke kereta lebih dulu, bahkan ketika kereta masih kosong (saya jelas tidak mau mengulang insiden ketinggalan kereta). Tidak lama setelah saya duduk di bangku saya, datang seorang Bapak Tua yang ternyata nomor kursinya berada di depan saya. Setelah saling sapa basa-basi, keretapun jalan. Ternyata keretanya sepi, buktinya di bangku saya, saya duduk sendiri, begitu juga dengan Bapak Tua tersebut. Jujur, sepanjang perjalanan saya kesal dengan Bapak tersebut (hal yang belakangan akan sangat saya sesali). Karena Bapak tersebut menaikkan kakinya ke Bangku di depan saya ketika beliau tidur, dan pada saat itu hal tersebut mengganggu saya. Tapi saya diam saja walau BT, dan si Bapak senyum sopan ke saya, dan saya makin BT. Perjalanan berlalu hingga tiba waktu shubuh, lalu saya sholat shubuh. Setelah shubuh, saya tidak tidur lagi, dan Bapak yang duduk di depan saya juga sudah bangun.

Lalu kami terlibat pembicaraan, beliau ke Jakarta dalam rangka mengunjungi anaknya, beliau dulunya anggota Kopassus dan sekarang tinggal di Blitar dengan istri barunya (istri lamanya sudah meninggal), nama beliau adalah Pak Bambang, umurnya 65 tahun dan giginya tinggal 9 hehe (Beneran tinggal 9 heyyy). Terlibat obrolan yang lumayan hangat, saya tiba-tiba berani menceritakan kisah tragis perjalanan saya ke beliau. Dari saya yang ketinggalan kereta, uang saya habis dan ini pengalaman saya ke Solo. Saya ingat sekali saya mulai bercerita kisah sedih tersebut ketiak sudah masuk Yogyakarta. Tanpa disangka, Pak Bambang bersimpati dengan cerita saya dan berkata “Yaudah nanti kamu ikut saya”. Dan ntah kekuatan apa, saya bilang “Oke Pak”.

Ilustrasi Gambar

Sumber: Google

Begitulah akhirnya saya ikut Pak Bambang, berjalan di belakang dan kadang di sampingnya. Begitu turun dari kereta, saya selamat dari para calo yang langsung menyerbu karena saya berada tepat di belakang beliau. Lalu kita makan soto di depan stasiun dan dibayarin Pak Bambang (walau saya sudah menolak habis-habisan). Kemudian kami naik bus jurusan Kediri, dan mengobrol sepanjang perjalanan. Di dalam bus, Pak Bambang memberikan satu kartu kepada saya. Katanya jika saya menggunakan kartu tersebut, saya akan dapat diskon semua Bus yang berada di wiayah Jawa Tengah. Wahh ternyata adik Pak Bambang ini yang punya salah satu PO Bus. Lalu kemudian bus berhenti di wilayah Jombang, para penumpang istirahat dan juga makan. Lagi-lagi makan saya dibayarin, padahal saya sudah menolak mati-matian sambil berkata “Pak, kalau buat makan doang saya punya duit Pak” Tapi Pak Bambang keukeuh untuk membayar makanan saya.

Rasa tidak enak saya belum sampai di situ, karena setelah kita sampai di Kediri, Pak Bambang ikut turun dengan saya (Padahal beliau bisa saja langsung naik bus menuju rumahnya di Blitar) dan meemani saya hingga dapat angkot. Setibanya saya dapat angkot, pak Bambang memberikan banyak pesan ke tukang angkotnya selagi menitipkan saya (berasa dititipin sama Kakek sendiri :’)). Ternyata saya baru tau kalau beliau juga “preman” di wilayah tersebut. Ya Allah no play play ini Kakek Tua. Saya bersikeras untuk bayar angot sendiri (lagipula cuma Rp. 15.000) dan akhirnya Pak Bambang membiarkan. Lalu lemudian kita saling berpamitan setelah sebelumnya berselfie berdua dan saya meminta nomor beliau. Sialnya, nomornya hilang bersamaan dengan hilangnya Handphone saya. Iya guys, masalah saya selalu hilang handphone yang berarti hilang data. Zbl. Dan kehilangan nomor Pak Bambang adalah salah satu part paling sedih dalam perjalanan ini. Bagaimana tidak, saya tidak bisa lagi bertemu dengan malaikat penolong saya yang menjadikan nyata perjalan Solo-Pare dengan biaya hanya Rp. 15.000. Saya berdoa, semoga Pak Bambang selalu bahagia dimanapun beliau berada.

Jika dirunut kembali, saya tidak akan bertemu dengan Pak Bambang kalau saya tidak ketinggalan kereta, saya tidak akan punya pengalam ajaib kalau saya berangkat dengan kereta pertama. Saya menyesal sudah mengumpat Tuhan, dan saat itu juga saya janji itu kali terakhir saya mengumpat Tuhan dan selalu percaya bahwa Semua hal terjadi karena ada hikmahnya. Pasti ada, akan selalu ada. Maka dari itu berpikiran positiflah akan setiap ketetapanNya, karena Every single thing happens for a reason.

rakhairiyahcom

 

Bagaimana kalau kalian? Pernah memiliki pengalam mendapatkan hikmah setelah cerita sedih?  Atau kalian juga pernah mengumpat Tuhan? Ah cukup saya saja yaaa

You may also like...

8 Responses

  1. febi berkata:

    Haha.. abis baca ini jadi berasa kalo hidup itu seni karena ngga bisa diprediksi secara saklek plek plek ..
    Mudah2an Pak Bambang tabungan energi positifnya tambah banyak dan bisa “dicairin” di saat-saat dia paling ngebutuhin atau jadi bekal abadi buat dia 😀

    Nice story!

  2. Mrs.kingdom17 berkata:

    Wahh seru banget pengalamannya…heran ya kadang kita suka berasa ajaib dengan berkat yang datang setelah ditimpa kemalangan…aku juga pernah beberapa kali begini. Makanya aku sekarang kalau ada sesuatu yang gak sesuai dengan harapan belajar ‘nrimo’ aja daripada buang-buang energi dengan marah atau kesal. Btw, ini Pare belajar di kampung inggris gak sihh….aku pernah 2 minggu dong…trs main sampe malang dan jombang, pulang dong kudu tidur di pinggir jalan gegara udah gak ada bis…mikirnya waktu itu ala jakarta yang ada busway sampe malam…hahaha…

  3. Antin Aprianti berkata:

    Kak beruntungnya dirimu, selalu bersyukur ya masih banyak orang-orang baik. Siapa sangka Pak Bambang yang di awal bikin BT eh malah jadi malaikat penolong. Sayang nomornya hilang ya, jadi nggak bisa silaturahmi lagi. Next time save nomor hp di email kak, jadi aman kalau kejadian hp ilang nomor hp kebackup di email.

    Dibalik kejadian, selalu ada kebaikan yang menyertainya. Pengalaman yang seru, ditunggu pengalaman-pengalaman lainnya ya.

  4. Rivai Hidayat berkata:

    sebuah seni dalam perjalanan ketika kita ga bisa nebak apa yang akan terjadi dalam sebuah perjalanan. Jadi yaa akhirnya mengalir aja dalam perjalanan tersebut. Eh, ternyata dalam perjalanan tersebut kita malah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Selalu bertemu dengan orang-orang baik dalam sebuah perjalanan. Ketika perjalanan tidak sesuai rencana, kita malah mendapatkan cerita dan pengalaman baru dalam sebuah perjalana.

    Salam buat pak bambang, semoga bisa ketemu lagi. Entah ketemu di mana 😀

  5. i n n a berkata:

    memang dibalik setiap musibah pasti ada hikmah yang baik terjadi kak, semoga pak Bambang selalu sehat dan bahagia dan bisa bertemu kaka lagi sewaktu-waktu. Jadi pengen belajar di kampung Inggris deh.

  6. BayuFitri berkata:

    segala yg terjadi pasti ada alasannya..bener dan setuju bngt kak, beruntung ya kak ketemu malaikat penolong spti pak Bambang semoga masih bnyk pak Bambang lain yg berhati malaikat untuk menjadi inspirasi buat kita semua..btw itu ada typo deh waktu tukar koper ke ransel knapa adiknya hrs bawa ransel ke Bandara? Bukannya perjlnan naek kereta ya?

  7. Setuju banget setiap kejadian apapun itu, baik ataupun buruk pasti akan ada alasan dan hikmah yg bisa diambil. Paling masalah yang mesti banget dihadapin adalah ttg menerima kejadian yg gak pernah diduga itu. Menerima emang akan selalu jadi part paling sulit ya heheheh

  8. Retno Nur Fitri berkata:

    Pengalaman ceritamu sungguh seru sekali kak, berkat Pak Bambang kak Rara bisa ke Kediri dengan aman dan bahkan banyak bonusnya lagi. Suatu rezeki yang tak terduga ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *