Micin? Apakah Selalu Baik?

 

Sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa anak kos identik dengan kebebasa, setidaknya bebas mau menentukan akan makan apa. Dan makanan tidak sehat adalah hal yang saya konsumsi hampir tiap hari. Selain alasan karena malas masak, beli di luar jadinya jauh lebih ringkas juga kan. Karena saya hanya makan sendiri, ga enak rasanya memasak masakan sendiri hahaha. Selama dua tahun belakangan ini, saya banyak menghabiskan waktu di rumah yang otomatis berhenti menjadi anak kos. Pulang ke rumah adalah solusi mengingat pandemi yang enggan untuk berakhir. Jadi sudah dua tahun belakangan (sebelum Oktober) saya resmi tidak menjadi anak kos, tapi anak rumahan. Kehidupan di rumah tentu saja sangat berbeda dengan kehidupan di kosan. Makan menjadi lebih teratur dan tentunya lebih bersih juga terjamin kualitas masakannya.

Salah satu kebiasaan yang ada dalam keluarga besar saya adalah tidak memasukkan micin atau penyedap rasa ke dalam makanan. Jadi hampir semua masakan di rumah yang dihidangkan untuk dikonsumsi keluarga dijamin free micin, alias semua menggunakan bumbu asli. Ngga tau ini aturan dari mana, tapi micin itu haram digunakan wkwk. Penyedap rasa kadang digunakan kalau mau masak makanan yang dikonsumsi oleh tamu (pihak lain di luar keluarga) saja. Jadi ya kami terbiasa untuk mengkonsumsi makanan tanpa ada kandungan micin di dalamnya.

Bagaimana rasanya makan tanpa micin? Sejujurnya kalau saya pribadi tidak ada perbedaan sih ya makanan micin dan tidak micin. Ntah karena saya sudah terbiasa, atau parahnya karena saya tidak bisa membedakan rasa makanan haha. Yes, saya tidak bisa memasak dan malas untuk memasak. Jadi sebagai orang yang malas masak, tau diri saja untuk tidak complain apapun soal masakan di rumah. Namun sebagai anak muda (jiakh) yang lama hidup di kosan dan tau betapa nikmatnya makanan instan, serba micin serta junk food lainnya, tentu saya lebih suka makan-makanan jenis itu. Namun, nyatanya orang tua saya tidak merestui kalau saya sering jajan makanan di luar atau bahkan sekedar beli makanan instan yang masak lagi di rumah. Mama melarang keras jajan di luar, dengan alasan tidak sehat karena banyak pakai pennyedap rasa. Padahal mah enaknya di situ kan, sad.

Jadi pada dasarnya kalian bisa membayangkan seperti apa sehat dan terjaminnya setiap asupan makanan yang masuk ke tubuh saya. Makanya tidak heran banyak yang berkomentar bahwa saya kurus setelah dua tahunan ini tidak bertemu. Tidak tau apakah karena beneran hidup sehat, atau karena tersiksa tidak bisa makan โ€˜enakโ€™ haha. Intinya kalau saya pribadi memang merasa bahwa saya kurus sih, dan badan saya menjadi lebih ringan saja.

Dikarenakan pandemi sepertinya sudah mau udahan, satu bulan belakangan ini saya memutuskan kembali lagi ke Jakarta. Yang mana itu artinya saya juga kembali menjadi anak kosan dengan segala kebebasan ini makan apapun. Saya pribadi merasa belakangan ini saya beneran lepas soal makanan, bahkan cenderung seperti balas dendam. Hal-hal yang saya pingin makan ketika di rumah saya tuntaskan sebulan belakangan ini. Saya hanya makan masakan rumahan sehari saja kalau tidak salah, waktu itu ketika saya berkunjung ke rumah tante saya. Selebihnya semua adalah makanan yang saya beli di tempat makan. Ditambah adanya upaya memudahkan dari aplikasi antar makanan online, itu beneran syurga bagi saya.

Namun sudah dua tiga hari belakangan ini juga terdapat benjolan di leher saya, benjolan yang kalau diraba rasanya sakit. Saya ngeuh akan adanya benjolan itu pada hari Minggu 7/11/2021 lalu ketika di rumah temen. Wah cukup panik sih, karena saya pernah baca kalau ada benjolan dan berasa begitu biasanya tidak jauh-jauh dari kelenjar getah bening. Saya dulu beberapa kali nemuin di bagian tubuh saya (terutama rahang dan leher), namun tidak pernah terasa sakit. Untuk pertama kalinya saya memiliki benjolan yang sama dan rasanya beneran sakit. Saya sempat minta pendapat dari temen, dan temen saya bilang mungkin karena makanan. Namun akhirnya saya coba baca-baca di Google. Dan saya rasa temen saya ada benarnya. Mengingat betapa berantakannya makanan yang masuk ke tubuh saya satu bulan belakangan ini. Kemudian ada satu kesimpulan lagi yang saya percaya dari beberapa kemungkinan kenapa kejadian seperti saya bisa terjdi, yaitu tubuh saya terlalu lelah dan itu merupakan salah satu bentuk pertahanan dirinya. Jadi saya pribadi menyimpulkan bahwa saya butuh istirahat dan mengatur kembali pola makan yang terlanjut berantakan.

Well saya tau, tidak sebaiknya kita melakukan self diagnosed seperti ii. Namun rasanya saya bisa melakukannya karena saya tau dan paham betul tubuh saya. Ada beberapa hal yang menjadi data pendukung terhadap kesimpulan saya. Pertama, imun tubuh saya bekerja seperti itu. Saya tipe orang yang sangat amat jarang demam, batuk atau pilek. Meriang saja saya sangat amat jarang. Namun ketika tubuh saya lelah atau fikiran saya stress saya akan kena serangan sariawan. Kadang kalau stressnya begitu tinggi, sariawannya juga akan membai-buta. Rekornya saya pernah kena sariawan sebanyak 16 titik. Fantastis bukan? Nah kebetulan sebulan di Jakarta ini saya selalu sariawan, walau bukan sariawan yang perlu untuk dikhawatirkan namun cukup menggangu. Karena menurut informasi di Google dijelaskan bahwa pembengkakan kelenjar tersebut bisa terjadi karena respon tubuh yang sudah terlalu Lelah dan imun tubuh sudah bekerja dengan sangat maksimal, maka saya merasa hal tersebut juga terjadi terhadap tubuh saya. Masalahnya biasanya saya hanya sariawan selama satu minggu atau dua inggu. Nah ini sudah sampai sebulan. Fix, badan saya pasti sudah sangat amat lelah, walau saya tidak merasa seperti itu.

Kedua. Pola makan yang tiba-tiba berubah, juga terlalu banyak penyedap rasa yang masuk ke dalam tubuh saya. Pada dasarnya saya tipe orang yang percaya bahwa tubuh kita itu punya cara penyesuaian yang keren terhadap apa yang terjadi. Imun tubuhnya bekerja karena dia sudah biasa. Nah kalau sekiranya saya terbiasa menerima asupan micin, saya rasa hal tersebut aman saja. nyatanya dua tahunan belakangan ini tubuh saya hampir tidak mengenal micin. Untuk kemudian dia dibombardir dengan micin juga selama sebulan full, tentu saja dia terkejut juga terheran-heran. Benda apa ini? Serangan apa ini? Begitu kira-kira ilustrasinya.

Maka berkaitan dengan makanan yang nyaman bagi kita, saya punya kesimpulan begini. Ini bukan tentang jenis makanan apa yang kita sukai, namun lebih kepada makanan apa yang nyaman bagi tubuh kita. Apakah berbeda? Tentu saja. segala hal yang kita seukai itu nyatanya belum tentu baik bagi tubuh kita. Buat apa kita suka kalau ujung-ujungnya menyakitkan. Seperti cinta, cinta yang baik itu adalah cinta yang tidak menyakiti. Bukankah begitu?

 

You may also like...

2 Responses

  1. febi berkata:

    Dulu gw juga pernah begitu, ada benjolan di leher kiri atas tapi ngga sakit..
    Justru karena ga sakit, makanya agak telat ketauannya..
    Setelah ke dokter sp, dia bilang gw kena kelenjar getah bening..
    Alhamdulillah sekarang udah sembuh..
    Dokter sih ngga bilang kenanya karena apa, cuma dari pengamatan gw, waktu itu gw lagi masa2nya PKL, kuliah dan sambil bikin tugas PKL yg harus rajin ketemu dospem PKL..
    Gw akuin saat itu emg capek banget, dan disaat itu juga gue selalu makan bakso dengan saos yang banyak banget..
    Dimana saos itu bisa dibilang warna merahnya yah, kita ngga pernah tahu itu merah asli atw bagaimana..

    Semoga cepet sembuh ya ๐Ÿ™‚

  2. hallowulandari berkata:

    makanan yang nyaman buat lidah kita seringkali ga nyaman buat kondisi tubuh yaa mba, tapi emang bumbu2 micin bikin nagih huhu. Belakangan aku tuh ngurangin penggunaan micin2an perlahan, termasuk garam dan gula, jadi kadar taste bumbu dan rasa nya aku pun udah bergeser dari tahun lalu, beralih ke healtyfood emang butuh proses yaaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *