Golongan dalam Masyarkat Aceh, Adakah?

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu kabupaten yang saya ingin selalu kunjungi sejak dahulu, bahkan sejak saya masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Tidak ada alasan khusus mengapa saya ingin selalu berkunjung ke Aceh, saya hanya kepengen saja. Ah apa karena Aceh terkenal sebagai daerah penyumbang laki-laki berwajah rupawan? Ntahlah. Hingga kemudian pada 2014 akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki ke Banda Aceh. Itu merupakan perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Tanah Rencong dan tentunya yang paling berkesan. Ketika berada di suatu daerah, saya termasuk tipe yang suka bercengrama dengan masyarakat asli daerah tersebut. Karena menurut saya banyak sekali hal yang dapat kita ketahui ketika bercengkrama dengan masyarakat asli, seperti yang akan saya sampaikan kali ini.

Beberapa dari kalian mungkin sudah cukup familiar dengan Teuku dan Cut, kalau ada nama orang yang diawali dengan Teuku dan Cut bisa dipastikan bahwa dia adalah orang Aceh. Ditambah kita cukup familiar dengan dua pahlawan kemerdekaan yang memiliki awalan nama yang sama, Teuku umar dan Cut Nyak Dhien. Saya pribadi baru tau ketika kunjungan saya ke Meulaboh awal tahun ini, kalau beliau berdua merupakan pasangan suami istri.

Perbincangan itu dilakukan di pantai Lhok Nga, dengan seorang teman. Darinya saya tau bahwa ternyata selain Teuku dan Cut yang sudah lebih familiar, terdapat gelar lain yang juga ada dalam pegelaran nama masyarakat Aceh. Dimana gelar-gelar tersebut merupakan diperoleh berdasarkan keturunan. Diantara gelar-gelar yang saya tau adalah, 1) Teuku dan Cut; 2) Sayyid (Said) dan Syarifah (Sarifah); 3) Sultan dan Sri Ratu

 

1) Teuku dan Cut

Teuku dan Cut merupakan gelar kebangsawanan yang diberikan bagi mereka yang merupakan keturunan bangsawan dari jaman dahulu. Teuku untuk laki-laki sedang Cut untuk perempuan. Layaknya budaya patriarki yang menurunkan garis keturunan dari darah ayah, gelar Teuku akan tetap melekat ketika ayahnya bergelar Teuku, walau sang ayah kemudian tidak menikah dengan perempuan dengan gelar Cut. Namun apabila ibu dari si anak bergelar  Cut yang menikah dengan laki-laki tidak dengan gelar Teuku, maka si anak tidak boleh menggunakan gelar Teuku. Namun saya memiliki teman yang punya gelar Cut dan menikah dengan lelaki tidak bergelar, anaknya dikasih gelar Nyak jika laki-laki dan Cut Nyak jika perempuan. Sejujurnya saya belum bertanya lebih jauh terkait hal ini, Namun perempuan bergelar Cut cukup banyak yang menikah dengan lelaki tanpa gelar Teuku sekalipun, dan sepertinya hal tersebut tidak menjadi masalah.

2) Sayyid (Said) dan Syarifah (Sarifah)

Jika Teuku dan Cut merupakan gelar bagi keturunan bangsawan, maka Sayyid dan Syarifah merupakan gelar keturunan yang diberikan kepada keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW melalui garis Fatimah dan Ali. Nah jika perempuan dengan gelar Cut masih bisa menikah dengan laki-laki bukan gelar Teuku, beda halnya dengan perempuan dengan gelar Syarifah. Konon perempuan dengan gelar Syarifah harus menikah dengan laki-laki dengan gelar Sayyid (Said). Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman, bahwa ketika perempuan dengan gelar Syarifah menikah dengan laki-laki tanpa gelar Said maka akan dikucilkan. Namun sebaliknya laki-laki dengan gelar Sayyid (Said) bisa menikah dengan perempuan walau dengan gelar Syarifah. Hal tersebut terkait dengan garis keturunan yang harus mereka jaga.

3) Sultan dan Sri Ratu

Mungkin diantara gelar-gelar lainnya, gelar Sultan dan Sri Ratu adalah gelar yang paling jarang diketahui oleh orang lain. Sesungguhnya saya juga mengetahui terkait hal tersebut ketika berbincang dengan teman yang asli Aceh. Keturunannya ada? Ada. Saya pernah memiliki satu teman dengan gelar Sri Ratu dan dua orang teman dengan gelar Sultan. Ya seperti yang saya katakan sebelumnya pegelaran dengan gelar Sultan dan Sri Ratu memang cenderung lebih jarang ditemukan dibandingkan gelar-gelar lainnya.

Kemudian dilangsir dari buku Daftar Marga/ Fam Gelar Adat dan Gelar Kebangsawanan di Indonesia yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional diketahui bahwa rakyat Aceh memiliki strata dalam masyarakat. Namun walaupun terdapat strata di dalam masyarkatat, hal tersebut tidak berimbas dalam pandangan hidup masyarakat itu sendiri. Dimana masyarakat membagi strata tersebut ke dalam beberapa golongan, yaitu:

  1. Golongan Rakyat Biasa
  2. Hartawan
  3. Ulama/ Cendekiawan
  4. Kaum Bangsawan

Selain keempat gelar tersebut terdapat juga pegelaran untuk gelar adat. Dimana gelar adat pada masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam biasa diberikan kepada orang atau sekelompok orang yang memiliki jabatan tertentu atau berperan penting dalam kehidupan sosial, budaya dan keagamaan di masyarakat. Adapun gelar adat tersebut adalah:

  1. Haria Peukam

Pejabat adat yang mengatur ketertiban, kebersihan pasar dan pengutip retribusi dalam masyarakat adat Aceh

  1. Imum Makim

Orang yang dipercayakan untuk mengurusi masalah keagamaan pada tingkat pemerintahan mukim yang terdiri dari beberapa gampoeng. Bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat, di wilayah mukim yang bersangkutan

  1. Laksamana

Laksamana merupakan panglima tertinggi di laut yang digunakan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1693-1636), di Kesultana Samudera Pasai (Aceh), misalnya Laksamana Malahayati

A. Panglima Laôt (Panglima Laut)

Suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di provinsi Nanggore Aceh Darussalam yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukôm Adat Laôt

B. Panglima Uteun

Unsur pemerintahan mukim yang menyelenggarakan pengelolaan hutan melalui lembaga adat uteun

C. Peutua Seuneubok

Ketua adat yang mengatur tentang pembukuan hutan, perladangan, perkebunan pada wilayah gunung, lembah-lembah dan menyelesaikan sengketa perebutan lahan dalam masyarakat adat Aceh

D. Qadli (Kadli)

Orang yang dipercayakan untuk memimpin pengadilan agama atau yang dipandang mengerti mengenai hukum agama pada tingkat kerajaan dan tingkat Nanggore (negeri) yang disebut Kadli Uleebalang

E. Syahbandar

Pejabat adat dalam masyarakat Aceh yang mengatur urusan kepelabuhan, tambatan kapal/ perahu, lalu lintas angkutan udara, sungai dan danau

F. Syarifah

Gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang merupakan keturunan dari Nabi Muhammad SAW, yang sampai sekarang banyak diikuti oleh masyarakat

G. Teungku

Diperuntukkan bagi seorang guru atau alem (asal kata alim, dari bahsa Arab yang berarti orang yang berilmu) yang telah melengkapi pendidikan agamanya atau memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab keagamaan

H. Teungku Meunasah

Orang yang dipercayakan untuk memimpin masalah-masalah yang berhubungan dengan keagamaan pada suatu unit pemerintahan Gampoeng (kampung)

 

 

Sumber: Raden Deffi Kurniawati dkk, 2012, Daftar Marga/ Fam Gelar Adat dan Gelar Kebangsawanan di Indonesia, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

You may also like...

30 Responses

  1. Rivai Hidayat berkata:

    Nanggroe Aceh Darussalam itu merupakan provinsi kak. Bukan sebuah kabupaten..hehehehe

    Ketika di aceh dulu, aku juga berkenalan dengan laki-laki yang menikah dengan seorang keturunan cut. Istrinya menanggalkan gelar cut-nya. Begitu juga dengan keturunan mereka yang tidak menggunakan gelar bangsawan.

    Di Aceh Besar, dekat pantai lhoknga, ada museum replika rumah cut nyak dhien dan teuku umar. Di sana dipamerkan peristiwa perjuangan masyarakat aceh dalam melawan belanda.

  2. Febi berkata:

    Menarik tulisannya, gw juga baru tahu kalo gelar sultan dan sri ratu juga dari Aceh.. soal gelar sri ratu & sultan, apakah orang yg pakai gelar ini masih ada keturunan bangsawan sama seperti teuku & cut ?..
    Kl iya, apa ada perbedaan spesifiknya?..
    Maaf, banyak tanya soalnya penasaran..hehe..

    Btw, good post!

  3. Kartini berkata:

    Wah berisi banget tulisannya kaaak.. ngomong2, beberapa marganya aku udh familiar kayak teuku dan cut, aku pun pernah dijelasin langsung waktu ke Aceh. Tapi yang syarifah dan said, itu kayaknya ga hanya di Aceh ya kak. Tapi semua orang keturunan Arab kayaknya punya aturan gitu, aku pernah dicertain juga sama temenku yang Arab.

    Makasih banyak ya kak tulisannya sangat bergizi

  4. RULY berkata:

    Sama Seperti yang lain, saya cuma familiar dengan sebutan Tengku & Cut, dan tulisan ini menjadi pemahaman baru buat saya, Nice Post, sama seperti yang Mas Vai bilang NAD itu salah satu Provinsi di Indonesia dan satu dari dua Provinsi yang berstatus Daerah Istimewa

  5. Firdaus Soeroto berkata:

    Mantep! Yang sering banget didenger sih Cut sama Teuku ya. Juga, sering denger ada yang pake Teuku dan Teungku (ada juga yang nulisnya Tengku) rupanya itu memang beda ya.

    Btw, Nanggroe Aceh Darussalam itu provinsi keluez Raaaa bukan kabupaten.

  6. Deny Oey berkata:

    Walaupun ada banyak gelar, tapi hanya garis keturunan laki-laki yang bisa melanjutkannya. Dimana-mana garis keturunan selalu dominan ya, menandakan budaya patriarki masih dominan bahkan di daerah istimewa sekalipun.

  7. Lovelypink berkata:

    Wah informatif banget tulisannya, selama ini ga pernah denger kalo di Aceh tuh ada penggolongan dalam masyarakatnya. Cukup familiar dengan nama cut & tengku, tapi cuma tau kalo itu khas nama Aceh. Ternyata baru tau ternyata nama ini tuh adalah gelar kebangsawanan. Oh iya Laksamana & Syahbandar juga sering digunakan yah di bahasa nasional. Walaupun golongan-golongan lainnya, terbilang baru saya kenal.

  8. Mariaa berkata:

    Jadi tahu nih ternyata banyak juga gelar untuk masyarakat Aceh. Menarik banget untuk dikulik. Ternyata beberapa jabatan dan peran tertentu juga punya gelar masing-masing. Nice info!

  9. Iqbal berkata:

    Serius di Lhok Nga bahas tengku2 dan sayyid2an? Kalau saya di Lhok Nga lebih senang diam lihat pantai sambil minum air kelapa 🙂

  10. Anni NS berkata:

    Wah ternyata keren banget ya suku Aceh itu, banyak golongannya juga, jadi teringat Bali..
    Terus terang saya baru mengetahui secara detailnya ini melalui ulasan kakak, selama ini yang saya ketahui ya baru Teuku, Cut juga Nyak.
    Informatif dan bermanfaat sekali tulisannya kakak. Jadi seperti diingatkan dan terasa bahwa negara kita Indonesia memiliki begitu banyak suku, golongan hingga budayanya.
    Thanks for sharing kak..nice info!

  11. Mrs.kingdom17 berkata:

    Aceh juga jadi wishlist nih, belum terkabul sampe. Meski dulu sempet parno juga karena aku kan Kristen katanya masuk Aceh agak repot untuk masalah baju. Cuma kalau memang begitu aturannya pasti aku bakalan nyesuain sih. Pengen ke Aceh utamanya mau cobain kuliner aceh apalagi yg pake sabu…hahaha…kepo aja. Sama seperti yg lain aku juga tahunya cuma gelar Cut ama Teuku doang…duhh penasaran pengen liat cowo2 Aceh jadinya. Hahaha

  12. Dayu Anggoro berkata:

    Keren juga artikelnya, gw waktu smp pernah punya temen nama depannya Cut. Gak nyangka yah berarti temen gw ini keturunan bangsawan aceh.

  13. Hallowulandari berkata:

    Aceh juga jadi destinasi yang pengen banget aku kunjungin tau mbaaaa, udh ngidam banget pengen kesana. Wah ternyata ada banyak banget yaa gelar-gelar kebangsawanan Aceh, awalnya aku cuma tau teuku sama cut aja

  14. Mamak Rempong berkata:

    Baca tulisan kamoh bikin gue flashback ke masa kuliah, deket dengan babang rupawan dari Nangroe Aceh Darusalam wkwkkwkwk

    Bebbb, mereka bukan cuma rupawan tapi juga romantis huahhahahahahha (tiba tiba tremor wkwkkwkwk)

  15. Beni berkata:

    Nambah ilmu nih mba. Beberapa temanku ada orang aceh, penjelasan mengenai gelar nama itu kurlebnya sama. Budaya patriarki itu memang sudah melekat di Indonesia, kita bisa lihat juga di daerah lain. Keren mba.

  16. Retno Nur Fitri berkata:

    Aku kira keturunan Aceh itu hanya Cut dan Teuku, ternyata ada banyak.. Jadi nambah deh pengetahuan ku tentang Aceh

  17. Tuty Prihartiny berkata:

    SepertI daerah lainnya, ternyata Aceh juga punya penggolongan dalam masyaratnya ya kak. Baik dari garis keturunan, sosial budaya dan religi.

  18. Antin Aprianti berkata:

    Rara aku gagal paham pas di bagian ini “Namun sebaliknya laki-laki dengan gelar Sayyid (Said) bisa menikah dengan perempuan walau dengan gelar Syarifah” Ini maksudnya boleh menikah dengan perempuan nggak bergelar Syarifah kah?

  19. Clara Kinasih berkata:

    Mungkin itu maksudnya Perempuan gelar Sayyid bisa menikah dengan perempuan tanpa gelar Syarifah kali yah kak?
    Clara cuma tau Teuku sama Cut ajah. Yang lainnya baru tau. Wow agak rumit juga yah. Alhamdulillah Clara dilahirkan dikeluarga biasa saja. Itu ajah kadang suka dapet sentilan ga enak karena Ortu dari 2 suku yg berbeda. Ini masih 1 suku tapi karena gelar, jadi agak sedikit rumit yah. Hmm..

  20. Diah Sally berkata:

    Gelar Sayyid itu kaya Habib kali yaa kalau disini, sama sama masih ada garis keturunan nabi.

    Nyak itu gelar buat laki laki yaa ternyata, dari kecil kakak gue panggil gue Nyak Goi, gue curiga dia sudah bisa menerawang jangan jangan jodoh gue emang dari Aceh yang tamvan nan religius nan romantis

  21. Lisa Fransisca berkata:

    Wah golongan masyarakat dan garis keturunan ini menurut saya budaya yang cukup rumit, meski menarik juga untuk dipelajari lebih lanjut. Btw, aku juga hanya penah dengar Cut dan Teuku. Belum pernah dengar tentang Sri Ratu. Keren nih Mba bacaan dan topik obrolannya dengan masyarakat setempat.

  22. EkaRahmawatizone berkata:

    Baru tahu kalo di Aceh ada tingkatan gelar gitu ya. Hmm menarik. Paling dikenal tuh nama cut dan Teuku. ternyata ada nama ciri khas lain ya untuk orang Aceh

  23. Lalaysf berkata:

    Gelar Aceh yg aku tau dari dulu cuma Teuku sama Cut aja hahahah. Btw, NAD bukannya provinsi ya?

  24. Saat tinggal di Sumut, saya pernah beberapa hari ke Aceh (Pidie dan Banda Aceh) untuk menghadiri pernikahan teman. Dan kagum dengan keunikan budaya, apalagi saat itu saya menghadiri pernikahan yang kental dengan adat setempat. Meski yang menikah rakyat biasa dan bukan keturunana bagsawan atau keturunan Rasulullah seperti disebutkan di artikel ini.
    Terima kasih sudah membagikan informasi ini, jadi tahu apa beda Teukun Sayidd..dan lainnya

  25. Lenifey berkata:

    Selama ini tahunya cut sama teuku aja. Teuku juga tahunya teuku wisnu. Hihi. Harusnya tahun ini ada rencana mau ke aceh urusan kerjaan. Tapi karena tiba2 varian delta melonjak akhirnya postponed dulu

  26. Elsa berkata:

    Aku baru ngeh, teuku sama tengku beda ya

  27. okta berkata:

    Baru tau ada golongannya lagi selain cut dan teuku/tengku. informasi yang bagus menandakan kaya nya Indonesia ya. makasih sharingnyaaa

  28. okta berkata:

    waah Baru tau ada golongannya lagi selain cut dan teuku/tengku. informasi yang bagus menandakan kaya nya Indonesia ya. makasih sharingnya.

  29. Anni berkata:

    Wah ternyata keren banget ya suku Aceh itu, banyak golongannya juga, jadi teringat Bali..
    Terus terang saya baru mengetahui secara detailnya ini melalui ulasan kakak, selama ini yang saya ketahui ya baru Teuku, Cut juga Nyak.
    Informatif dan bermanfaat sekali tulisannya kakak. Jadi seperti diingatkan dan terasa bahwa negara kita Indonesia memiliki begitu banyak suku, golongan hingga budayanya.
    Thanks for sharing kak..nice info!

  30. dea merina berkata:

    aku juga pernah penasaran sama Aceh tapi lebih ke gimana sistem pemerintahan di sana
    apalagi dulu sering banget denger kalo aceh itu ketat banget mengenai islam hehe

Tinggalkan Balasan ke Iqbal Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *