DARI SARJANA PSIKOLOGI MENJADI MAGISTER DIPLOMASI PERTAHANAN

Sejak SMA saya sudah tertarik dengan psikologi, hingga akhirnya saya memutuskan untuk kuliah S1 mengambil jurusan psikolgi. Hal tersebut kesampaian dan akhirnya saya menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) saya di Universitas Persada Indonesia YAI dengan jurusan psikologi. Pendidikan yang selesai dalam waktu empat tahun itu tentu saja memberikan banyak insight positif kepada saya, juga mengubah banyak hal dalam hidup saya, terutama terkait memahami diri sendiri. Namun semakin dipelajari saya semakin paham bahwa something wrong with my self, makanya tak heran kebanyak mahasiswa psikologi itu kuliah ya sambil berobat jalan haha.

Sejak dahulu saya punya kebiasaan membaca buku, khususnya novel. Tere Liye merupakan salah satu penulis favorit saya, dan saya paling nikmati karyanya. Ah bukan hanya menikmati, tapi beneran menginspirasi dan mengubah hidup saya. Saya seperti terhipnotis ketika membaca buku-buku Tere Liye. Sebut saja buku Hapalan Sholat Delisa (sebagai buku Tere Liye yang pertama saya baca), yang akhirnya mengantar saya ke Aceh. Yep pertama kali saya ke Aceh hanya ingin berkujung ke Lhok Nga, pantai yang banyak diceritakan dalam buku tersebut. belum lagi buku Sunset Bersama Rosie yang menjadi alasan utama saya untuk berkunjung ke Lombok dan saya realisasikan di tahun 2014 awal. Saya beneran ke Lombok untuk bisa mengunjungi Gili Trawangan, lokasi yang digambarkan dalam buku tersebut. sampai di Gili Trawangan saya hanya duduk di pinggir pantai sambal membayangkan setiap adegan dalam novel, dan besoknya pulang ke Lombok. Benar-benar hanya membayangkan setiap adegan dalam buku, saya bahkan tidak mandi air lautnya karena adegan begitu tidak ada di buku.

Namun ada satu buku karya Tere Liye yang benar-benar sangat mengispirasi saya bahkan akhirnya ikut andil dalam kehidupan saya, buku Ayahku Bukan Pembohong. Jadi buku itu bercerita tentang seorang anak yang sudah memiliki keluarga kecil, Dam nama anak itu yang juga menjadi tokoh utama dalam buku ini. Sedari kecil Dam terbiasa mendengarkan cerita-cerita hebat ayahnya dan sangat menikmatinya, namun makin dia berumur dia semakin meragukan semua cerita ayahnya. Karena semua yang diceritakan ayahnya tidak terdapat di internet dan terlalu mustahil untuk menjadi sebuah kenyataan, dan Dam merasa ayahnya hanya mengada-ngada saja. hingga kemudian di akhir buku Dam menyadari bahwa Ayahnya bukanlah pembohong.

Salah satu cerita yang diceritakan Ayahnya kepada Dam adalah cerita tentang si Tukang Tidur. Si Tukang Tidur yang memiliki kemampuan berbahasa dalam dua belas bahasa, serta menguasai delapan cabang ilmu. Kedokteran dan Hukum merupakan dua cabang ilmu yang membuatnya terkenal, dia merupakan dokter hebat juga hakim yang sangat adil. Tapi ya itu, hobby-nya adalah tidur. Karena saya sangat mencintai yang namanya aktivitas tidur, jujur cerita si Tukang Tidur menginpirasi saya dan membuat saya ingin menjadi si Tukang Tidur. Saya lupa kapan pastinya, yang penting sejak saat itu saya berambisi untuk menjadi si Tukang Tidur.

Setelah selesai S1 saya ingin melanjutkan ke jenjang S2, namun saat itu adik-adik saya juga meneruskan sekolah mereka. Rasanya akan terlalu membebani jika saya juga minta untuk dikuliahkan S2. Akhirnya saya mencari sendiri informasi terkait beasiswa, dan pilihan jatuh kepada Universitas Pertahanan (UNHAN). Saya tau UNHAN pertama kali dari temen yang akan daftar ke sana juga, iseng-iseng saya juga coba. Ya walau waktu itu saya ngga yakin tidak bakal lulus, lah kata orang masuknya susah. Akhirnya saya juga memutuskan akan melanjutkan studi ke sana juga. Setelah melengkapi berkas, kemudian saya datang langsung ke kampusnya. Nah tibalah prises mendaftar, jujur saya bingung mau daftar di jurusan apa. Waktu itiu semua jurusan yang ada mengandung unsur pertahanan, tapi tidak ada psikologi sama sekali. Bingung dong yaaa, nah ketika baca semua jurusan saya menemukan jurusan Diplomasi Pertahanan. “Wah kayanya keren nih, ntar jadi diplomat”. Hanya itu yang ada di dalam benak saya kala itu, beneran hanya karena saya rasa keren. Jadilah saya daftar di jurusan Diplomasi Pertahanan.

Tanpa disangka dan tidak diduga, ternyata saya lulus! Wah itu merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya, juga menjadi awal mula babak hidup saya. Belajar di UNHAN tidak semudah yang saya bayangkan, apalagi saya sekelas dengan teman-teman yang memiliki background S1 yang linier dengan S2 mereka. Jelas saya tertinggal jauh sekali dari mereka. Mana 80% materi pakai Bahasa inggris lagi, saya benar-benar babak belur. Bahkan ada di satu titik saya nangis setelah mendapatkan hasil tes, karena rata-rata teman-teman di kelas dapat skor 80-90 sedang saya hanya 60 hehe.

 

Namun perkuliahan itu akhirnya selesai, saya akhirnya bisa menyelesaikan studi saya dan resmi menggunakan gelar M. Si (Han) setelah gelar S. Psi saya. Bangga? Jelas! Lebih ke bangga karena bisa menyelesaikan tanggung jawab dan berusaha sampai diatas limit sih hehe. Lantas bagaimana? Apakah saya jera untuk menjadi si Tukang Tidur? Iya, saya jera hahaha. Nyatanya tidak semudah apa yang saya baca sih. Tapi karena sudah terlanjur, mari lanjutkan hidup. Saya akan upayakan untuk ahli di bidang psikologi juga pertahanan, itu tekad saya selanjutnya. Doakan semoga saya berhasil yaaa

You may also like...

3 Responses

  1. Mamak Rempong berkata:

    ga sadar keburu abis ini bacaannya,masih pengen di ceritain lagih beb hahahha
    congratttsss, semoga segera jadi diplomat yang cetar ya

  2. duniamasak berkata:

    wahh, congraduation ya kak 😀 sukses selalu

  3. RULY berkata:

    Psikologi ke Magister Diplomasi Pertahanan

    You’re so Special

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *