Bunuh Diri pada Anak, Salah Siapa?

Selama pandemi ini saya memtuskan untuk tinggal di Sidikalang, Dairi. Sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Utara dan berbatasan dengan Aceh. Masih belum yakin apakah akan menetap di sini atau kembali ke Ibukota, nyatanya bagi saya yang tidak begitu betah berdiam di dalam rumah, Sidikalang adalah solusi semenjak pandemi datang dan Jakarta memiliki banyak keterbatasan. Harus pakai masker, harus cek suhu, nongkong tidak bisa, bahkan pesan makanan online saja harus berjalan dulu hingga mulut gang. Huh melelahkan.

Beberapa minggu belakangan ini, Kabupaten Dairi cukup gempar, bagaimana tidak sudah terdapat dua kasus bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar. Diawali pada 14 September 2021 seorang anak SMA memutuskan untuk gantung diri di ruangan laundry rumahnya, ditemukan langsung oleh kedua orang tuanya ketika orang tuanya baru pulang dari ladang. Kemudian pada 20 September seorang anak SD mencoba meminum racun, hal tersebut cepat diketahui oleh Ibunya sehingga sang anak selamat. Walau kemudian setelah mendapatkan perawatan selama dua minggu anak tersebut akhirnya meninggal dunia. Bayangkan dalam satu bulan ada dua kasus bunuh diri dan terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan dengan motif yang sama, beban sekolah. Sidikalang cukup tergoncang dan kemudian muncul pertanyaan “Ada apa? Kenapa?

Jika menurut voice note teman dari korban yang saya dengar, terkait kasus bunuh yang terjadi pada anak SMA, yang bersangkutan melakukan bunuh diri karena merasa stress dengan beban sekolah. Beberapa hari sebelumnya guru menghubungi orang tua sang anak dan orang tua diharap untuk bisa menghadap guru. Sebelum memutuskan bunuh diri, anak tersebut mengutarakan kepada temannya niat tersebut dan ditanggapi temannya dengan candaan. Yah siapa juga yang menyangka jika itu menjadi kenyataan. Nyatanya anak itu memang serapuh itu.

Mari kita pahami sedikit terkait bunuh diri, apa itu bunuh diri dan bagaimana seseorang memutuskan untuk bunuh diri? Bunuh diri biasanya dikaitkan dengan aspek psikologis juga kejiwaan seseorang. Terdapat beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan terkait fenomena bunuh diri, salah satu diantaranya adalah psikoloanalisis Freud. Teori psikologi yang paling saya sukai. Freud berpendapat bahwa tujuan dari kehidupan adalah kematian, melalui hal ini yang kemudian muncul dorongan agresif yang memiliki tujuan untuk mempertahankan ego atau ke-akuan seseorang. Penyaluran tersebut dilakukan dengan cara menyalurkkan insting kematian yang sifatnya merusak ke objek luar untuk kemudian mengubahnya menjadi sebuah tindakan yang bisa diterima oleh lingkungan. Pada dasarnya hal tersebut dimaksudkan untuk menyalurkan energi dari insting kematian, namun kegagalan ego dalam menyalurkan insting kematian keluar dirinya tersebut menyebabkan serangan berbalik ke dalam dirinya sendiri, dan apabila serangan tersebut cukup kuar orang tersebut akan bunuh diri. Upaya tersebut masih menurut penjelasan Freud merupakan fase depresi, dimana Freud berpendapat bahwa depresi berasal dari kehidupan masa lalu seseorang.

Kurang lebih penjelasan singkatnya bahwa seseorang yang memutuskan untuk bunuh diri biasanya karena mengalami depresi, dimana dia merasa bahwa bunuh diri adalah keputusan terbaik dalam menyelesaikan masalah yang dimilikinya. Orang tua serta lingkungan anak sangat memiliki peran yang sangat besar dalam kasus bunuh diri. Jika merujuk kepada kasus bunuh diri yang terjadi di Dairi tersebut maka guru juga memiliki peran yang besar bagi perkembanagn psikologis anak. Karena diperkirakan bahwa alasan kedua anak etrsebut melakukan bunuh diri adalah karena terbebani beban sekolah.

Pandemi Covid-19 mewajibkan semua kita untuk terbiasa dengan dunia digital, dunia online. Pergerakan dibatasai, tatap muka tidak bisa dilakukan, bahkan proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Kemudian muncul pertanyaan, kebijakan belajar dengan metode online ini apakah efektif jika dilaksanakan di Kabupaten Dairi? Nyatanya tidak semua masyarakat paham akan penggunaan gadget, pun tidak semua masyarakat memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menjadi orang tua juga menjadi guru di saat yang bersamaan. Mengapa saya katakana seperti itu, saya kasih sedikit gambaran sedikit.

Walau tidak bisa dikatakan sebagai Kabupaten miskin nyatanya tidak semua masyarakat di Dairi hidup bergelimang harta, juga memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Selain merampas kebebasan kita untuk bergerak, pandemi juga sedikit banyak merampas penghasilan kita. Tentu banyak dari kita yang mengalami “kekeringan’ di masa pandemi ini. Jika anda tidak memiliki perusahaan di bidang alat kesehatan, atau anda yang bekerja mengelola dana baksos tentu saja anda sepakat dengan saya. Begitu juga dengan masyarakat di Dairi. Rata-rata masayrakat di sini bekerja sebagai petani yang harus berangkat pagi kemudian pulang di sore menjelang maghrib. Belum lagi sampai rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah. Sudah seharian selama di ladang sangat lelah, sampai rumah tiba-tiba anak menanyakan pelajaran atau tidak paham terkait pelajaran, apa yang akan dilakukan? Tentu saja beban kerja sehari itu akan dilampiaskan kepada si anak. Lagipula bagaiaman anak mau paham pelajaran kalau sekolah saja tidak. Judulnya saja itu sekolah daring, nyatanya anak hanya dikasih tugas untuk dikerjakan di rumah. PR lagi PR lagi dan PR terus.

Tentu saya tidak bisa menggeneralisasi semuanya juga tidak akan mengabaikan jasa para guru, namun nyatanya terdapat beberapa oknum guru yang mau enaknya saja. hanya ingin gampangnya saja. kasih tugas kepada murid untuk dikerjakan, sudah selesai tanggung jawabnya. Bahkan saya pernah lihat bahwa keponakan saya dikasih tugas melalaui Whatsapp group orang tua di jam 9 malam. Sembilan malam! Mana tugasnya disuruh bikin video gerakan tubuh lagi. Saya saja kadang sudah tidur di jam 9 malam.

Orang tua yang sibuk mencari kehidupan, guru yang tidak optimal dalam mengajar, anak yang bebas mendaptkan informasi melalu sosial media tanpa filterasi, bukankan itu semua adalah paket komplit? Paket komplit untuk menghancurkan anak dan ujungn tanduknya menjadikan anak berfikir bahwa bunuh diri adalah solusi.

Saya teringat akan diskusi saya dengan teman yang sedari dulu tinggal di Medan, dia mengatakan bahwa pemerintah pusat tidak bisa memaksakan kebijakannya untuk diterapkan kepada semua daerah. Terdapat hal-hal lain terkait budaya, dan kebiasaan yang ada di daerah tersebut. Dan saya sepakat bahwa metode sekolah daring ini bukan merupakana solusi yang bisa diterapkan di Dairi.

Dalam kaca mata saya, permasalahan terkait kasus bunuh diri yang terjadi di Sidikalang ini sangat kompleks. Tidak bisa menyalahkan orang tua saja, juga tidak bisa menyalahkan guru. Sudah selayaknya kedua pihak saling bekerjasama. Orang tua jangan beranggapan bahwa anak yang disekolahkan akan menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Juga guru selayaknya harus menjadi pengajar dan memahami muridnya. Nyatanya tidak semua murid suka belajar, tidak semua murid suka belajar dengan hanya duduk mendengarkan. Melakukan pengamatan dna pendekatan kepada mudir perlu dilakukan. Namun yang paling penting dari semuanya, saya percaya semua orang ingin didengarkan dan semua orang ingin diperhatikan.

 

 

You may also like...

23 Responses

  1. febi berkata:

    Kalo menurut gw, untuk saat ini, pembelajaran daring mau ngga mau dengan segala plus dan minusnya harus diterima karena pandemi..
    Mau gmn lagi..
    Semoga dengan adanya kasus ini, di daerah Sidikalang tersebut orang- orang, komunitas setempat, dan pemda mulai sadar soal pentingnya kesehatan mental dan adanya komunitas semacam support system untuk para penyintas kehilangan bunuh diri (survivors of suicide loss)..
    Karena menurut psikolog Adelia Krishna, banyak dari pada penyintas kehilangan bunuh diri yang ga tahan dan pada akhirnya juga mau ikut2an bunuh diri karena adanya efek riak (ripple effect) yang mengikut di fenomena bunuh diri..

    Nice info!

  2. Iqbal berkata:

    Gimana perasaan orang tua yang baru pulang kerja dari ladang, melihat anaknya sudah bunuh diri. Saya mau coba membayangkan, rasanya gak sanggup. Semoga orang tua tsb diberi kekuatan dan kelapangan hati

  3. Mamak Rempong berkata:

    baca artikel ini rasanya pedih, selama ini menegeluh stress karena pandemi, nyatanya bukan cuma ibunya saja…anak lebih stress lagi, dengan segala keterbatasan mereka harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi terus menerus dalam waktu singkat

    semoga kita semua dikasih kekuatan dan kemampuan menghadapi semua ini ya

  4. Lovelypink berkata:

    masa pandemi ini ga cuma berat buat kita yang udah dewasa yah, tapi anak2 juga. Selama pandemi ini saya dan temen-temen juga pelayanan untuk anak-anak remaja & ngerasain bgt gmn mereka cerita pengalaman belajarnya yang makin unik & ajaib. Tapi syukurnya beberapa anak-anak uda bisa ikutan PTM, uda bisa ketemu temen-temennya juga. Tapi waktu denger berita soal PTM di Sumurt, yang banyak anaknya ga kembali sekolah krn mayoritas udah menikah, rasanya makin miris. Semoga kedepannya kita bisa berdamai sama pandemi ini yah, biar anak2 juga bisa ngerasain kembali ke sekolah.

  5. Rivai Hidayat berkata:

    Dengar kata sidikalang jadi ingat kopinya. Kopi arabikanya enak. Asamnya sangat terasa. Dulu pernah melewati kota ini. Iyaa, hanya lewat ketika melakukan perjalanan ke aceh.

    Selain orang tua dan guru, lingkungan pergaulan juga sangat mempengaruhi pribadi dan pemikiran anak tersebut. Belum lagi informasi yang dia terima akan banyak membentuk karakter anak. Keluarga memang memegang peran penting dalam karakter anak. Termasuk menjauhkan pikiran untuk bunuh diri.

  6. Firdaus Soeroto berkata:

    Sedih banget pas baca artikel ini. Kejadian ini banyak banget faktornya sih menurut gua, selain tingkat stres si anak yang meningkat, faktor lingkungan juga sangat-sangat berpengaruh. Selain itu, pendidikan agama dari kecil harus banget ditanam dari kecil.

  7. RULY berkata:

    Terlepas dari semua pemberitaan yang ada terkait penyebab bunuh diri bisa terjadi, saya rasa kejadian ini perlu dievaluasi secara komprehensif, terlebih isu mental health ini memang masih sangat tabu di masyarakat kita, orang yang sedang depresi itu penyebabnya macam macam dan terkadang mereka bukan butuh nasehat atau semacamnya.

  8. Antin Aprianti berkata:

    Sedih banget bacanya, tapi ya memang pandemi ini tuh bener-bener menggunjang mental. Tapi pasti banyak faktor juga yang mempengaruhi si anak untuk bunuh diri. Semoga nggak ada kejadian seperti itu lagi di kemudian hari

  9. Ning! berkata:

    Rasanya sedih banget baca ini. Gak bisa ngebayangin orangtuanya nemuin anaknya udah nggak bernyawa. Gilak! Itu pasti hancur banget hatinya. Huhu

    Pemberian PR tanpa penjelasan juga dialami tetanggaku. Jadi dia cuma disuruh mempelajari materi di buku kemudian diberikan soal sama gurunya via WhatsApp grup. Tanpa penjelasan apa pun, kan anak jadi bingung nggak tau gimana cara ngerjainnya, terutama matematika. Harus betul-betul paham, latihan berulangkali. Ini dijelaskan aja enggak, gimana anak nggak stress.

    Sedangkan orangtuanya juga cuma lulusan SMP, mau ngajarin juga gak bisa. Mau ngelesin gak ada biaya, belum lagi pengeluaran kuota yang sebelumnya gak ada dalam budget. Semua jadi serba salah dan sangat memprihatikan.

  10. Kartini berkata:

    Itulah kak. Dari beberapa testimoni beberapa teman yang punya adik, kalo adik2nya di sekolah seperti yang kakak tulis hanya diberikan tugas dan tugas tanpa pemahaman materi oleh guru. Makanya akhirnya aku memutuskan untuk menyekolahkan adikku di sekolah swasta yang terkenal mumpuni guru2nya. Karena kesehatan mental anak itu penting ya kak. Jangan sampai banyak terulang karena penyesuaian yang kurang menyenangkan bagi murid

  11. Eka Rahmawati berkata:

    Miris baca kasusnya. Aku kurang tahu sistem sekolah sekarang apakah semakin berat atau gimana. Ditambah lagi dengan adanya pembelajaran online yg ternyata gak semudah yg dibayangkan. Semoga kejadian kayak gini gak kejadian lagi di daerah mana pun ya

  12. Tuty Prihartiny berkata:

    Miris rasanya membaca tulisan mengenai bunuh diri yang terjadi pada anak usia sekolah. Apapun alasannya, termasuk karena ‘ keputusasaan ‘ terhadap tuntutan pendidikan . Kalau tentang salah siapa? Sebelum memjawab, ada satu hal yang menjadi catatan… Peristiwa bunuh diri salah satu anggota keluarga berdampak ‘melukai’ anggota keluarga lainnya, juga orang-orang terdekat. Sehingga untuk menjawab tentang siapa yang salah … Sungguh suatu concern tersendiri. Jadi yuk mari kita lebih peduli dengan kondisi sekitar . Thanks kak Rara for your sharing

    • admin berkata:

      Bener banget kak, ada hal yang paling penting dari kasus bunuh diri yang terjadi. Yaitu keadaan keluarga yang ditinggalkan setelah kejadian ini. Pastinya kita hanya bisa berharap bahwa mereka akan Baik-baik saja.

  13. Beni berkata:

    Kasus bunuh diri di masa pandemi itu meningkat di dunia bahkan di Indonesia. Dan itu menimpa siapa saja untuk saat ini. Dari tua-muda. Dan yang buat aku kaget itu yang menimpa anak-anak. Sebelumnya aku pernah baca news kalo anak sekolah di indo banyak yang bunuh diri. Sedih rasanya.

  14. Kangen kopi Sidikalang, pernah lewat kota ini dan sengaja ngopi di warung kopi beneran di kampung gitu…dan nikmat sekali…
    Terkait kasus bunuh diri aku yang ibu dari dua anak remaja dengan ortu dan 4 kakakku guru, jadi ku bisa melihat secara seimbang
    Memang kebijakan ga bisa diterapkan di semua tempat dengan sama. Guru di Jakarta dan Dairi pasti beda fasilitas dan kemampuan terkait IT, misalnya.
    Jangankan Jakarta-Dairi. Anakku yang sulung SMA Negeri, yang bungsu SMP swasta Islam aja beda. Yang negeri ga tiap hari ada kelas online, lebih banyak diinta baca sendiri, nonton video terus kerjain tugas…Kalau yang swasta, tiap hari ada kelas, seperti sekolah biasa tapi online via zoom. Jadi beneran ‘dapat pelajaran’. Akhirnya yang besar aku ikutkan bimbel online dengan rutin agar ada ‘guru yang ngajar’ karena ku ga sanggup ngajarin anak SMA, mending keluar uang aja…Lha kalau ortu ga mampu gimana? Baik tenaga, biaya maupun waktu. Guru pun ada yang mau dan mampu , banyak juga yang ga mau atau ga mampu mengajar dengan benar dalam belajar daring ini….Enggak heran kesehatan mental anak pun terdampak.
    Semoga dengan adanya pembelajaran tatap muka terbatas kesehatan mental anak, ortu, guru dan semua akan membaik

    • admin berkata:

      Wahhh pernah ke Sidikalang juga sebelumnya kak? Minum kopinya di Daerah mana kak?

      Bener kak, kondisi sulit. Dan sebenarnya bingung juga sih bagaimana problem solvingnya terkait kasus seperti ini.

  15. hallowulandari berkata:

    wah aku baca tulisanmu jadi keinget pas ikutan webinar kesehatan jiwa sama kemenkes kak. isu-isu kesehatan mental emang kompleks ya ternyata, anak kecil pun bisa jadi udh merasakan stres sampai akhirnya berujung ke kasus bunuh diri. Setuju, urusan kesehatan mental dan kasus-kasus bunuh diri pada anak ini urusan semua pihak. Karena Soal kesehatan mental pun ternyata ga cuma dari sisi psikologis aja, ada juga sisi biologis dan lingkungan juga.

  16. Lenifey berkata:

    Yaampun masih muda banget. Pasti berat banget. Sudah frustasi banget tapi nggak ngerti kudu ngapain sampai harus menjalani jalan tersebut. Pandemi memang ngaruh banget sih ke psikis. Karena banyak yang harus tinggal di rumah jadi interaksi sosialnya ya sama orang rumah aja. Jadinyaa ngaruh ke mentalnya.

  17. Mrs.kingdom17 berkata:

    Pandemi memang membawa perubahan besar di hampir setiap lini kehidupan masyarat gak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Siap gak siap mau enggak mau ya kita harus mencoba menghadapi. Cukup miris sih ya kalau solusinya bunuh diri, semoga dari kasus tersebut instansi yang terkait bisa mencari solusi yang terbaik.

  18. Anni NS berkata:

    Setelah membaca seluruh tulisan kakak, saya pribadi setuju dgn pemikiran kakak
    krn kurang lebih sy pun berpendapat demikian. Mengetahui ttg adany realitas bunuh diri di Diari memang miris rasanya juga menyedihkan..semoga solusi, pemahaman hingga pengertian dr seluruh pihak bisa terwujud dgn sebuah cara yang harapannya bisa diaplikasikan bersama.

  19. Eka Rahmawati berkata:

    Bukan cuma orang tua dan guru yg pusing dengan sistem pembelajaran online, tapi murid sendiri juga stres. Aku gak habis pikir sih sama guru yg ngasih tugas jam 9 malam itu dia pikirannya kemana ya pas ngasih tugas begitu?

    Semoga kejadian bunuh diri yg dilakukan siswa gak terjadi lagi ya.

  20. Deny Oey berkata:

    Kebetulan beberapa hari lalu juga abis dari Desa Silalahi yg ada di Kabupaten Dairi. Di sana desa dan masyarakatnya hidup sederhana, jadi paham jg kalo sekolah daring sepertinya tak efektif untuk mereka. Semoga pandemi cepat selesai ya, agar tidak muncul lagi efek bola salju lainnya.

  21. bunuh diri pada anak salah orang tua. cmiiw

    Pandemi memang memaksa kita harus tetap waras, tapi aku rasa anak-anak belum mampu handle itu sendiri-an tanpa orang tua. jika ini terdengar egois, memang orang tua dituntut super di kondisi kayak gini. lebih baik korban kan mereka dalam sekolah daring, daripada ngorbankan pikiran mereka buat mampu ngelewatin semua pelajaran. kalau menyalahkan guru, mereka juga punya standar standar masih dianggap efektif mengajar (misalnya), dan mereka org dewasa mampu menghandle itu dengan cara mereka. Ketika mereka udah ga peduli dengan apa yang mereka kasih ke anak didik, kita yang punya anak yang harus peduli dengan apa yang kira kira siap ditampung oleh anak sendiri.

Tinggalkan Balasan ke RULY Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *