Bagaimana dengan Kehidupan yang Terjadi Lima Tahun Dari Sekarang

Dahulu saya pernah tau ada orang yang katanya berhasil menggapai semua mimpi-mimpi yang sudah dicatatnya. Iya, jadi dia mencatat semua mimpi-mimpi serta hal-hal yang dia ingin capai dalam sebuah kertas. Kemudian kertas tersebut ditempel di kamarnya agar bisa dilihat selalu, barangkali. Saya pribadi pernah ingin melakukannya, hanya sampai tahapan pernah namun tidak pernah berhasil melakukannya. Waktu itu sepertinya saya hanya berhasil menulis tidak sampai 10 mimpi hehe. Ntah karena mimpi saya yang kebanyakan atau justru karena kurang banyak hehe.

Waktu berjalan, kita juga berubah. Bukankah di dunia tidak ada yang pasti kecuali perubahan? Saya rasa begitu, makin ke sini saya semakin berubah. Semoga mengalami perubahan yang lebih baik, aamin. Jika dahulu saya seringnya membuat target tinggi yang harus dituruti, rasanya sekarang tidak lagi. Jika rasanya dahulu semua tempat harus saya kunjungi, rasanya sekarang tidak lagi. Jika dahulu semua bidang rasanya ingin saya kuasai, rasanya sekarang ingin lebih fokus saja. Saya berubah, apakah karena menua atau dewasa? Ntahlah. Tapi bisa jadi ini adalah oleh-oleh dari setiap perjalanan yang selama ini saya lakukan, oleh-oleh dari setiap buku yang saya baca, serta oleh-oleh dari semua pengalaman hidup orang yang saya petik. Satu hal yang pasti, saya berubah.

Semakin ke sini, rasanya saya tidak ingin ngoyo dalam hidup. Tidak ingin memaksakan sesuatu, semakin belajar untuk bisa menerima semuanya. Ah bukan, bukan menyerah. Hanya saja saya mencoba mengikuti alur kehidupan yang digariskan Tuhan kepada saya. Benar, ini sama sekali seperti bukan saya. Maka dari itu saya belajar untuk sampai di titik ini. Tentu saja saya punya mimpi dan ambisi, menurut saya bukan hidup namanya jika tanpa mimpi dan ambisi. Namun tidak memaksakan setiap mimpi dan ambisi yang saya miliki harus memiliki hasil akhir yang sesuai dengan kemauan saya, itu yang saya lagi coba untuk lakukan. Belajar ikhlas dan belajar untuk lebih pasrah dan berprasangka baik terhadap Tuhan.

Ketika memaksakan sesuatu hal untuk terjadi rasanya tidak enak. Nanti jika akhirnya hal tersebut tidak terjadi sesuai dengan keinginan kita saja sudah tidak enak, ditambah kita tidak ikhlas dan menyesali mengapa sesuatu tidak terjadi sesuai dengan kehendak kita akan semakin tidak enak rasanya. Alih-alih memaksakan, saat ini saya berada pada posisi mempersiapkan hati untuk menerima semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sebagai contoh seperti ini, seringnya ketika kita meminta kepada Tuhan, kita selalu meminta untuk diberikan yang terbaik. Yang terbaik loh ya, yang terbaik versi Tuhan tentunya, karena lagi-lagi kita hanyalah hamba dan Tuhan itu sangat sayang kepada hambanya. Maunya kita tak jarang berbeda dari maunya Tuhan. Kita maunya A eh ternyata menurut Tuhan baiknya itu C, akhirnya kadang Tuhan buat kita menunggu dulu atau langsung cancel A dan kasih C. Lantas apa kita menerima begitu saja? Jarang sih ada yang nerima begitu saja, biasanya kita kesal. Saya termasuk yang kesal kalau sesuatu tidak terjadi dengan maunya saya hehe. Proses penerimaan tanpa mengeluh itu yang saya sedang coba pelajari dan dalami, semoga saya mampu.

Lalu kalau ditanya lima tahun dari sekarang saya mau apa? Saya pribadi inginnya lima tahun dari sekarang saya hidup bahagia tanpa ada penyesalan yang berarti tentang lima tahun yang terjadi ke belakang. Remember kalau penyesalan adalah hal yang paling saya takutkan hehehehe. Kalian bisa baca di sini http://rakhairiyah.com/ketakutan-yang-membantu/ Namun jika penyesalan adalah keniscayaan, maka semoga itu adalah penyesalan yang tidak begitu berarti, penyesalan yang bisa ditorelansi.

Jika ditanya lebih spesifik lagi, lima tahun dari sekarang semoga saya bisa menjadi seorang ibu untuk anak-anak saya nantinya. Berbicara mengenai menjadi seorang ibu, itu sudah menjadi keinginan saya sejak beberapa tahun balakangan. Saya selalu ingin  bisa menjadi seorang ibu rumah tangga, pekerjaan yang paling susah yang ada di muka bumi ini. Huft. Walau kadang masih terlalu egois, namun kadar egosi saya sepertinya sudah bisa ditorelansi. Walau sekarang masih keras kepala, sepertinya nanti saya sudah bisa dealing. Walau sekarang masih jauh dari kata mampu, saya yakin saya bisa nantinya. Jiakh!

Rasanya saya ingin cepat-cepat untuk menerapkan teori psikologi yang saya pelajari ketika di kulih dulu. Bagaimana mengelola emosi, bagaimana parenting yang cocok diterapkan ke anak nanti dan tentunya sesuai zaman dan bagaimana menjadi ibu yang asik. Namun sebelum pada akhirnya saya sampai pada tahap menjadi Ibu, bukankah sebaiknya saya memikirkan terlebih dahulu bagaimana menjadi seorang istri? Semacam, kamu mau nikah sama siapa mba?

You may also like...

3 Responses

  1. Mamak Rempong berkata:

    semooga segera ketemu calonnya mbaaa hahahahahha, Aamiin

    Setuju banget, tidak ada yang pasti selain perubahan itu sendiri.

  2. Febi berkata:

    Hidup tanpa penyesalan = mindful 🙂
    Sip 😀

  3. Mrs.kingdom17 berkata:

    Aku pribadi justru jadi punya banyak impian untuk tahun2 ke depan. Rasanya lebih semangatbaja jalanin hidup. Hehehe. Btw, semoga terwujud ya impiannya menjadi ibu di lima tahun ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *