Assalmu’alaikum Mas

 

Hallo Mas, asslamu’alaikum.

Duh degdegan nih saya kalau diminta untuk bikin beginian haha. Pertama, mari kita berterima kasih dahulu kepada KUBBU yang sudah memfasilitasi saya buat bikin hal begini.

Saya inisiatif saja nih manggil kamu Mas, karena panggilan Mas terdengar lebih romantis saja mungkin (?). Biar semakin romantis, saya mau ubah kata ganti saya menjadi aku, boleh?

Siapapun nanti kamu yang akan menjadi pasangan hidupku, aku punya kata-kata yang aku tulis di tahun 2021 buat kamu. Semoga kamu bisa membaca ini tanpa menunggu satu atau dua tahun ya.

Mas aku perempuan yang punya prinsip tinggi dalam hidup, aku hanya mau menikah ketika aku ingin menikah. Hal tersebut barangkali yang kemudian menjadi alasan saat aku menulis ini aku belum menikah, padahal kalau mendasar kepada target yang aku tetapkan sejak dahulu harusnya aku sudah menikah. Tapi bukankan seringnya seperti itu, sesuatu yang kita targetkan seringnya meleset. Ntah karena kita yang kurang yakin atau fenomena alam yang berkata lain. Maka dari itu, sejak beberapa tahun belakangan ini aku pribadi enggan memiliki target yang hasilnya aku tidak bisa berkontribusi penuh.

Bisa jadi bahwa aku adalah manusia paling kepala batu yang pernah kamu jumpai di sepanjang hidup kamu, tapi saat ini, hari ini aku sedang berusaha keras untuk mengikis sedikit ke’batu’an yang ada pada diriku. Semoga nanti ketika kita bertemu, aku sudah tidak sekeras ini ya Mas. Semoga nanti di masa saat aku bertemu dan bersatu dengan kamu, aku sudah bisa berdamai dengan diriku sendiri. Semoga aku sudah bisa berdamai dengan masa laluku, juga berdamai dengan semua kenangan yang enggan aku lupakan atau penyesalan yang enggan aku selesaikan.

Banyak sekali yang mengatakan bahwa aku terlalu pemilih soal jodoh, itu yang menjadi alasan mengapa aku belum menikah sampai saat ini. Dulu aku menolak, dengan alasan aku tidak merasa seperti itu. Semakin ke sini aku sadar bahwa standar itu memang penting kan Mas? Mau milih sepatu saja kita mikir lama, masa mau milih pasangan hidup kita asal pilih? Kamu pasti sepakat dengan aku soal ini. Namun satu hal yang saat ini sedang aku pelajari dan koreksi, masalahku perkara jodoh ini bukan karena standar atau hal lain. Masalah utamanya justru aku yang enggan membuka hati bahkan diri kepada orang lain. Aku rasa selama ini aku sudah terlalu mandiri Mas, mandiri dalam segala hal, termasuk perasaan. Semakin ke sini aku semakin menyadari, sejatinya perempuan tidak boleh terlalu mandiri bukan. Kemandirian yang berlebihan mengakibatkan perasaan angkuh, perasaan sombong dan perasaan tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Dimana hal tersebut otomatis membuat tembok tinggi yang susah untuk dimasuki oleh orang lain. Itu yang terjadi kepadaku beberapa tahun belakangan ini Mas. Saat menulis tulisan ini, aku sudah sangat amat banyak berubah menurutku. Aku yang tidak terlalu ngoyo lagi, aku yang sudah mulai mengurangi sikap dan sifat egois, aku yang sudah mengurangi untuk mendominasi dan aku yang sedang berusaha menata hati.

Mas, kata Diah dan Bang Gilang (kapan-kapan kamu aku ajak kenalan dengan mereka) jodoh itu adalah cerminan diri. Maka kalau mau jodohnya bagus, coba mulai dari perbaiki dahulu dirinya. Aku sedang coba lakukan itu hehe. Dimanapun kamu semoga kita sedang melakukan hal yang sama ya Mas. Sampai akhirnya pada saatnya nanti ketika kita saling bertemu, kita sama-sama pantas untuk bersanding dan hidup bersama selamanya.

You may also like...

3 Responses

  1. Mrs.kingdom17 berkata:

    Manggil mas aja udah berasa romantis….ahh semoga segera dipertemukan dgn mas idaman kamj ya ra…

  2. febi berkata:

    aamiin, semoga yang ditulis disini bisa ‘menarik’ realitas 🙂

  3. Tuty Prihartiny berkata:

    Selamat saling memantas diri. Teriring doa semoga Tuhan segerakan proses menuju halalnya ya, kalian. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *