Akhirnya Bisa Berkunjung Ke Puncak Jaya (2)

Selama saya di Puncak Jaya saya menginap di rumah seorang pengusaha yang cukup terkenal di Puncak Jaya, nama Tokonya Toba Jaya dan Kak Selli dan suami merupakan pemilik toko. Kebetulan ketika saya berada di Puncak Jaya, suami Kak Selli sedang berada di Jayapura, sehingga kami tidak sempat bertemu. Kalau kalian membayangkan rumah di Puncak Jaya biasa saja, maka kalian akan tercengang jike melihat isi dari rumah kak Selli, benar-benar mewah. Selama saya berada di sana, saya merasa tidak tinggal di pedalaman karena rumahya yang sangat nyaman. Oh ya, ini merupakan cerita lanjutan kisah perjalanan saya di Puncak Jaya. adapun cerita sebelumnya bisa kalian baca di sini http://rakhairiyah.com/akhirnya-bisa-berkunjung-ke-puncak-jaya-1/

Hari kedua di Puncak Jaya saya berkesempatan untuk berkunjung ke Pos Merah Putih yang berada di ketinggian 3000mdpl bahkan sepertinya lebih. Sulitnya sinyal interet mengakibatkan saya tidak bisa melakukan pengecekan langsung melalui aplikasi. Ya, tidak perlu naik gunung kalau hanya ingin foto di ketinggian 3000mdpl. Cukup naik mobil saja, kamu sudah sampai. Bahkan biasanya OAP (Orang Asli Papua) akan jalan kaki jika ingin ke Puncak Merah Putih. Walau memang jalanan yang dilalui tidak begitu bagus dan cukup meguji adrenalin, karena bersisian langsung dengan jurang. Pos Merah Putih ini dulunya merupakan salah satu pos milik OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang kemudian berhasil diambil alih oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia), dan saat ini menjadi pos penjagaan TNI dan yang juga menjadi tempat wisata karena pemandangannya yang memang bagus. Dari Pos Merah Putih kita dapat melihat keseluruhan kota Mulia, sebagai ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Dan kalau pergi ke sana ketika sore hari, maka kita akan bisa melihat lautan awan yag sangat indah. Saya tidak mempunyai kesempatan itu, namun sudah melihat langsung dari foto seorang teman dan benar-benar bagus.

Sebenarnya selain Pos Merah Putih terdapat satu lagi tempat yang saya mau kunjungi di Puncak Jaya, Namanya Tingginambut. Nah di sana pemandangannya juga kurang lebih sama dengan Pos Merah Putih, sama-sama pemandangan dari ketinggian. Hanya saja saya tidak diizinkan untuk pergi ke sana, karena alasan keselamatan. Masalahnya Tingginambut itu beneran markasnya OPM dan akan sangat berbahaya kalau saya pergi ke sana sendirian, kata mereka. Jadi selama lima hari saya di OPM hanya saya habiskan ke rumah tempat saya menginap, keliling kota, ke kantor polisi dna bandara. Hahaha. Semuanya ya demi alasan keselamatan.

Setelah berkunjung ke Pos Merah Putih, saya diajak untuk melihat kebun kopi yang ada di Kota Mulia. Kebun Kopi milik Bapak Wonda tersebut berada di Kampung Usir Distrik Mulia yang berada di ketinggia 3.300mdpl, jadi sudah tentu kualitas kopiya tidak perlu diragukan lagi. Sedikit cerita yang saya peroleh bahwa kopi di Mulia ini agak berbeda jika dibandingkan dengan kopi yang ditanam oleh masyarakat Indonesia lainya. Kebanyakan kopi di Mulia akan tumbuh karena ya dia memang mau tumbuh, oleh karena itu ketika kita melihat langsung kebun kopi Bapak Wonda, kopi-kopi tersebut tidak tertata dengan rapi tapi terlihat seperti berantakan. Adapun harga kopi yang dihasilkan dari perkebunan Kopi Mulia ini adalah Rp. 250.000 perkilogram, dan tentu saja itu untuk green bean. Iya mahal banget, makanya saya ga beli hehe

Terdapat danau di perkebunan kopi, dengan view perbukitan. Minus salju saja akan terlihat seperti di Swiss hehe

Honai merupakan rumah asli masyarakat Papua, di Puncak Jaya masih terdapat masyarakat yang tinggal di dalam honai walau sudah tidak banyak lagi. Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, masyarakat Puncak Jaya mayoritas sudah tinggal di rumah-rumah biasa. Hanya saja di Puncak Jaya hampir 100% rumah masyarakat dibangun dengan kayu, dikarenakan harga semen yang sangat mahal. Di Puncak Jaya terdapat satu kawasan yang terdapat bayak honai, bukit Alkitab nama lokasiya. Bukit Alkitab merupakan sekolah keagamaan yang berada dalam suatu kawasan tertutup yang terdiri dari belasan honai. Jadi pasti sangat bagus jika ke sana untuk sekedar berfoto dengan latar belakang honai yang banyak. Saya juga berkeinginan untuk pergi ke sana, karena penasaran ingin melihat isi dalam honai tersebut, setelah dari perkebuan kopi kami langsung menuju ke sana. Namun sangat disayangkan, karena kami tidak diizinkan untuk masuk. Kabarnya alasannya karena saya datang dengan aparat yang menggunakan seragam dan atribut lengkap, jadi kalau mau datang harus membawa sesuatu dulu sebagai buah tangan. Jadi tidak bisa langsung datang begitu saja.

Saya memiliki cerita lucu dari rencana kunjungan ke honai tersebut. karena sebelumnya sudah tidak diperbolehkan untuk masuk, maka keesokan harinya saya berinisiatif untuk datang kembali kali ini ingin datang sendirian dan sudah menyiapkan buah tangan sendiri. Kemudian saya cerita ke Kakak Toba Jaya yang rumahnya saya tempati tentang niat saya (yang kemudian saya merasa sangat bersyukur karena cerita ke beliau). Ketika mengetahui tentang buah tangan yang akan saya bawa, Kak Toba Jaya serta merta melarang saya untuk pergi. Bagaimana tidak kalau saya berniat untuk membawa pinang, sirih dan kapur ke Bukit Alkitab, sedangkan itu merupakan tempat keagamaan. Pinang itu diibaratkan seperti minuman keras yang dapat memabukkan. Kalau diibaratkan, sama saja seperti saya ingin berkunjung ke pesantren kemudian saya membawa minuman keras. Tentu bukan hanya diusir, tapi sepertinya saya juga akan masuk headline news berita karena membuat mabuk murid di Bukit Alkitab.

Tidak banyak tempat yang saya eksplore selama saya di Puncak Jaya, alasan utamanya adalah alasan keselamatan. Saya tidak diizinkan bepergian sendirian sedangkan semua orang sibuk dengan aktivitasnya (dikarenakan hari dimana saya berada di Puncak Jaya memanglah hari kerja). Bahkan demi alasan keselamatan juga, hingga hari terakhir saya berada di Puncak Jaya saya belum kesampaian naik ojek. Sungguh sad, mengingat sebenarnya saya hampir saja berhasil, namun kemudian gagal karena informasi bocor kepada rekan polisi yang menjadi penganggung jawab saya selama di Puncak Jaya. Walau di satu sisi saya kesal sekali dengan segala macam larangan yang dibuat terkait pembatasan gerak saya, di satu sisi saya paham posisi mereka yang menjaga saya. Ya, Puncak Jaya tidak cukup aman untuk saya.

Akhirnya setelah 4 hari berada di Puncak Jaya, di hari kelima saya harus kembali ke Jayapura dikarenakan terdapat agenda dadakan dan urgent yang harus dilakukan di Jayapura. Maka saya sampaikan rencana kepulangan saya ke Kakak Toba Jaya. Oh ya guys, ketika saya di Puncak Jaya itu adalah bulan Desember, dimana penerbangan sangat amat penuh karena banyak orang ingin natalan di bawah (Jayapura). Sehingga kabarnya penumpang berebut untuk bisa turun, bahkan tak jarang sampai tonjok-tonjokan (informasi yang saya dapat sih begitu, hanya sepenglihatan saya waktu itu masyarkaat hanya sampai tahapan rame dan marah-marah saja. belum ada insiden tonjok-tonjokan). Jadi ketika perjalanan saya ke Puncak Jaya, mau naik susah dan mau turun juga susah hahaha.

Kondisi di bandara ketika saya akan pulang

Beruntungnya saya tinggal di rumah kakak Toba Jaya yang merupakan anggota sosialita Puncak Jaya, hahahaha canda. Syukurnya Kak Toba Jaya mengenal baik yang punya salah satu maskapai di Puncak Jaya, jadi tinggal hubungi dan satu seat tersedia untuk saya. Hemmm the power of connection itu nyata adanya guys. Tapi saya sudah dipesankan oleh Kak Toba Jaya, bahwa nantinya ketika ada yang bertanya kepada saya, bilang saja bahwa saya udah beli tiket dua minggu sebelumnya.

Sekitar satu jam sebelum keberangkatan saya berangkat ke bandara, mau turun ini tidak ada proses timbang badan seperti naik hanya timbang bagasi saja. Kemudian saya menunggu di dekat landasan, ngobrol dengan Kakak Toba Jaya dan Bu Mey yang punya pesawat. Benar-benar seperti saya sudah masuk genk sosialita Puncak Jaya hahahaha. Sekitar 30 menit ngobrol dan becanda serta membuat rencana liburan dengan mereka, kemudian pesawat datang. Kembali saya “mengulah” dengan bilang ke Bu Mey kalau saya mau duduk di kursi paling depan. Dan tentu saja keinginan saya langsung dituruti, secara beliau yang atur semuanya. Belum lagi Bu Mey yang berkelakar kepad apilot “Capt, ini sa titip sa pu adek ee (Capt, ini saya titip adek saya)”. Kelakar Bu Mey bikin saya sangat terharu, padahal kami baru aja ketemu dan justru mau berpisah huhu. Sayang sekali ketika itu handphone saya mati sehingga saya tidak bisa mengabadikan langsung moment langka tersebut secara abadi. Kapan lagi terbang dengan pesawat tapi kita lihat langsung pilotnya sedang apa. Ketika saya sudah di pesawat saya bercanda menjadi pramugari pesawat, karena telah berhasil memasang seat belt salah satu peserta (padahal pesawat kecil begitu tidak memiliki pramugari kan). Oh ya pesawat yang saya naiki ini, pesawat yang berbeda ketika saya naik. Lebih bagus dengan satu baling-baling, dan tentu saja harganya juga lebih mahal hahaha. Beda 600 ribu dengan ongkos pertama saya naik. Tapi tidak apa-apa, keselamatan adalan koentji!

Kebaikan orang-orang yang ada di Puncak Jaya, kehangatan mereka menyambut saya serta pembuktian langsung yang saya lakukan tentang Puncak Jaya menjadikan saya pribadi merasa memiliki ikatan dengan Puncak Jaya. Bagi saya Puncak Jaya kemudian menjadi suatu tempat istimewa yang kemudian akan saya kunjungi lagi. Banyak hal-hal yang ada dalam list saya yang belum saya lakukan selama di Puncak Jaya, salah satunya adalah naik ojek dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Satu hal yang pasti, Puncak Jaya tidak semenyeramkan seperti apa yang ada di Media. Selayaknya semua tempat yang sudah saya kunjungi bahwa selalu banyak orang baik di suatu tempat, sikap kita yang kemudian menentukan apakah akan diperlakukan baik juga atau tidak.

Saya berfoto dengan Bu Mey dan Kak Selli

 

You may also like...

37 Responses

  1. febi berkata:

    Halo Rara, tulisannya bagus..
    Btw, apa nama maskapai atau jasa yang melayani kamu pulang dari Puncak Jaya ke Jayapura?
    Kayaknya recommended soalnya lebih aman & nyaman ya..hehe..
    Maklum, agak takut ketinggian..

    Oia, info soal daun pinangnya bermanfaat banget..
    ga kepikir kalo pinang dianggap sama mereka bisa masuk ke kondisi “trance”, gw pikir cuma alkohol, fungi & ayahuasca aja 😀

    Nice post!

  2. Rivai Hidayat berkata:

    Meskipun terlihat aman, aktivitas di puncak jaya emang dibatasi demi keselamatan. Apalagi aktivitas warga pendatang. Jadi yaa kita sebagai pendatang ga bisa seenaknya sendiri.

    Emang selalu menarik mengunjungi tempat yang tidak banyak dikunjungi orang. Jadi membuka pandangan kita terhadap daerah tersebut. Ga semenyeramkan cerita-cerita orang.

  3. RULY berkata:

    Wahh Pengalaman Yang sangat menarik banget ini Mba, terlebih bukit Alkitabnya, terima kasih infonya Mba

  4. Mrs.kingdom17 berkata:

    Aku justru baru ngeh kalau puncak Jaya justru agak rawan sama OPM ya, aku pikir di daerah wamena aja. Wahh penasaran sama Honai dan bukit Alkitab, tapi sulit pasti masuknya ya. Perjuangan ke puncak Jaya aja susah ya…

  5. Clara Kinasih berkata:

    Pengalamannya menarik sekali kak Rara.
    Untung banget sebelum dirimu nekat bawa buah tangan ke bukit Alkitab, kakak cerita dulu dengan Kak Toba Jaya. Kalau tidak… Tak taulah apa yang terjadi.

  6. Antin Aprianti berkata:

    Kamu berani banget sih kak. Pengalaman yang seru dan pastinya nggak terlupakan ya, btw aku penasaran kenapa pengen naik ojek sih kak?

  7. Mariaa berkata:

    Dingin banget nggak sih di sana? Suhunya berapa rata-rata ya? Ketinggian 3.000-an kalo di Jawa Barat aja setara sama Gunung Pangrango sama Ciremai. Di situ aja udah brrrr dingin banget pake jaket tebal.

  8. Iqbal berkata:

    Soal “bawaan” pinang itu, saya juga ada sedikit pengalaman agak mirip. Kalau di Aceh itu, bawaannya adalah gula. Terutama di kampung2, kalau ada “rapat kampung” buat persiapan nikah seseorang, yang punya hajat kasih makanan, kopi, rokok. Yang diundang bawa gula… banyak juga yg bawa uang

  9. Ning! berkata:

    The power of The Rich of Puncak Jaya ya, Kak. Haha

    Gile, bisa langsung dapet tiket. Ketemu yang punya pesawat, duduknya juga bisa request paling depan lagi. Mantap!

    Pengalamannya di Puncak Jaya juga keren kak, walau aktivitas dibatasi tapi masih bisa explore beberapa tempat. Yang penting semua aman ya.

  10. Retno Nur Fitri berkata:

    Karena terbatas ruang gerak jadi gak bebas ya kak, semoga next time kalau ke papua lagi bisa lebih bebas kak

  11. Merry Olivia berkata:

    Wah luar biasa seru banget pengalamannya. Btw untung ga jadi bawa buah tangannya ya.

  12. hallowulandari berkata:

    Mbaaaaa, beruntung banget yaa udah kesampean sampe naik puncak jaya! keren-keren, klo sekarang di puncak jaya emang udah ga ada saljunya ya mba? atau salju adanya di bulan-bulan tertentu aja di puncak jaya?

  13. Firdaus Soeroto berkata:

    nice post, Ra!

    Banyak traveling, banyak ketemu orang baru, banyak ketemu drama dan macem-macem hal lain. Cerita Papua ini salah satu yang gua tunggu-tunggu.

  14. Mba Rara, menarik banget kisah-kisahnya soal Papua ini.
    Maklum kalopun bisa menginjakkan kaki ke papua, palingan cuma mau ke Raja Ampat doank. Maklum budak korporat, cuti terbatas, duit pun ikutan terbatas, tapi keinginannya tak terbatas. Hahahahahaha… Makasi loh uda bikin kita-kita jalan-jalan virtual.

  15. Dibatasi sana-sini buat keselamatan diri…aku bacanya ikut deg-degan dan ending-nya happy
    Suka sekali baca pengalaman saat di Puncak Jaya ini. Paling enggak meski batal ke beberapa tempat , ga ajdi naik ojek, sempat jadi bagisn genk sosialita Puncak Jaya ya Kak:D

  16. Nia Devy berkata:

    kak rara kamu lucuu ya, ngakak pas mau bawa buah tangan. Untung aja kamu cerita sebelum berangkat klo ga bisa zonk.

  17. Lalaysf berkata:

    Hal yg buat aku penasaran, di ketinggian 3000 mdpl tersebut, dingin atau nggak? Udah itu aja

  18. Gelly berkata:

    Wonderful experience

    Aku sambil baca sambil bayangin seru banget pasti.. tapi kadang suka mikir apakah aku akan berani ya? Karena aku takut ketinggian haha

    Tapi seneng banget bacain experience oranglain kaya begini hehe

  19. Talif berkata:

    Ke bagian Indonesia Timur saja bisa seseru itu dan sekaya itu ya pengalamannya. Berasa banget bedanya, budaya yang sering ditemui. Tapi tetap toleransi utama. Keren.

  20. Lenifey berkata:

    Wah baru tahu kalo pinang tuh memabukkan.
    Keren ya kak bisa gaul sama orang kaya puncak jaya. Hihi. Tapi mantap sih sekali telp langsung bisa dapet kursi. The power of connection

  21. Mamak Rempong berkata:

    waaahhh berani banget bebbb, jalan sendirian ke daerah konfllik. walaupun serab terbatas, tapi udah sampe sana dan melihat banyak hal baru itu udah hal yang luar biasaah. kereeenn

    keselamatan adalah koentji, setuju!

    semoga trip trip berikutnya tetep selamat dan bisa eksplore lebih dalam

  22. Dayu Anggoro berkata:

    Gila si liburan di daerah yang rawan banget sama OPM, untungnya waktu itu lagi adem ayem yah Kak, gak ada ketegangan gitu sama OPM.

  23. Deny Oey berkata:

    Kapan ya bisa eksplor tanah papua, disana benar2 indah. Indonesia Timur memang indah!!
    Dan pastinya mw ke Puncak Jaya jg, Jayapura, Tembagapura, Merauke, Raja Ampat…

    Aaaarrrrggghhhh!!!

  24. Elsalova berkata:

    Terlihat seruu. Jadi pengen juga jelajah tanah papua.

  25. Tuty Prihartiny berkata:

    Usai baca tulisan kakak “Akhirnya Bisa Berkunjung Ke Puncak Jaya” part 1, saya duga-duga, apa ya cerita lanjutannya… mengingat daerah yang kakak kunjungi bukan daerah yang ‘biasa-biasa’ aja. Syukurlah tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan. Bahkan alhamdulillah banyak kebaikan yang kakak alami disana. Yuk kita bantu doa, semoga kondisi di Puncak Jaya kian kondusif untuk dikunjungi.

  26. Oktanti Hapsari berkata:

    Waw, pas aku baca judulnya langsung kebayang sm Gunung Everest nya Indonesia hehe, tapi sayang bgt ya gak bisa eksplorasi lebih leluasa eksplorasi kawasain ini

  27. EkaRahmawatizone berkata:

    Penasaran sama bukit Alkitab hehe. Btw itu pake maskapai apa ya Kak?

    Oh iya Fotonya kurang banyak nih kak. Kalo dibanyakin bisa makin seru nikmatin cerita kakak hehe

  28. Beni berkata:

    Oh ini yang dinamakan the power of orang dalem ya hehe
    Akhirnya dibuat kelanjutannya mba. Penasaran sama cerita di rumah Honai itu kalau jadi ke sana hehe

  29. Cha berkata:

    Duh asik. Punya power of connection, itu untung gak jadi bawa pinang ya hahaha

  30. Anni NS berkata:

    Kakak tulisannya bagus sekali juga seruuu..beruntung ihh punya pengalaman berharga seperti itu bisa dijadikan bahan untuk menulis cerpen arau novel juga kak itu mnrtku…jadi senang dan banyak bersyukur pastinya jg ya kak dgn semua yg
    sdh dialami dan dirasakan

  31. Mamak Remponh berkata:

    Keselamatan adalah koentji, setuju banget inih
    Walaupun ga bisa maksimal explore, kamu kece bangeett udah sampe sana bebb, sendirian pulakkk

    Untung ga jadi bawa sirih yak hahahaha, beda jauh ama melayu…bawa sirih buat ngelamar hahahaha

    Take care ya di perjalanan berikutnya

  32. inez berkata:

    pengalaman yg ga bakalan terlupakan nih seumur hidup

  33. Anni Nurlina berkata:

    Kakak tulisannya bagus sekali juga seruuu..beruntung ihh punya pengalaman berharga seperti itu bisa dijadikan bahan untuk menulis cerpen arau novel juga kak itu mnrtku…jadi senang dan banyak bersyukur pastinya jg ya kak dgn semua yg
    sdh dialami dan dirasakan

  34. Lalaysf berkata:

    Pertanyaanku, di sana ketinggian tersebut terasa dingin atau tetap panas ya?

  35. Oktanti Hapsari berkata:

    Seru banget ya, aku langsung kebayang gunung salju kalo denger kata puncak jaya

  36. Hallowulandari berkata:

    Beruntung banget bisa sampe ke puncak jaya yaa. Btw di puncak jaya ga ada saljunya mba? Atau emang di waktu tertentu aja ya?

  37. Gokiill Rara pengalaman travelingnya. Aku salut sih kamu seberani ituu sampe speechless aku.

    Makasih lhoo udah mau berbagi ceritaaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *