Categories
Travelling

Pertama Kali Memulai Solo Backpacker

Sebagai manusia, kita pasti akan mengalami yang namanya pertama kali dalam hidup. Pertama kali pergi sekolah, pertama kali jatuh cinta, pertama kali patah hati, pertama kali disakiti, pertama kali nyoblos waktu pemilu dan pertama kali lainnya. Mungkin itu karena kita hidup dan mati hanya untuk sekali.

Kejadian yang pertama kali itu biasanya selalu berkesan, setidaknya begitu, terutama jika terkait hal bagus atau yang menyenangkan. Tulisan ini sendiri saya buat karena ini pertama kalinya saya punya blog yang TLD dan ini akan menjadi tulisan pertama di blog saya. Randombangetya? Iya ide ini juga muncul randomdan tiba-tiba ketika saya sedang berfikir “What should I write for my first post?”. Kemudian munculah ide ini, kejadian pertama yang saya masih ingat betul dan tidak akan saya lupakan. Pertama kali saya solo backpacker.

Tahun 2014 itu pertama kali saya ngerasaindikhianati sahabat sendiri, orang yang saya percaya dan kenal baik. Bermodalkan sakit hati dan ingin pergi meniggalkan Jakarta, saya pergi ke Pare buat kursus bahasa Inggris. Coba, siapa yang sakit hati dan malah ambil kursus? Saya doang kayanya, ntah pikiran dari mana. Tapi memang saat itu hanya itu yang ada dalam pikiran saya, ntah kenapa.

Saya berangkat ke Pare dan ambil kursus dengan jadwal amat padat. Dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore nonstop, hanya break sholat dzuhur. Namun ternyata kursusnya hanya berjalan optimal selama 1 bulan. Bulan-bulan selanjutnya saya banyakan hang outdan melakukan hal aneh. Seperti bersepeda dari Pare ke Kediri yang ajraknya sekitar 22 KM, yang berarti PP menjadi 44 km dengan teman-teman cowok saya. Pulang-pulang ke camp muka saya gosong dan saya besoknya dihukum karena ga ikut kegiatan. Indah sekali….

Partner cycling saya

Singkat cerita, ditengah keabsurd-an kegiatan saya di Pare, saya terbesit untuk pergi ke Lombok untuk mereaslisasikan keinginan saya sejak selesai membaca buku Sunset bersama Rosie-nya tere Liye. Iya novel yang punya latar belakang kisah di Gili Trawangan Lombok itu, dan saya ke Lombok hanya ingin ke Gili Trawangan. Tidak punya rencana dan hanya punya keinginan pergi ke Gili Trawangan, saya nekat ke Lombok via Bali dengan ngetengkapal dan bus. Saat itu, menurut saya itu akan keren wkwk. Saya ingat sekali, saya hanya membawa beberapa pakaian yang saya masukkan ke dalam tas laptop (literallytas laptop hitam), bawa tumblerTupperware, pakai boots dan jaket.

 

Lalu saya mencari informasi sebanyak-banyaknya soal backpackeran menuju Lombok, terkait bus dan kapal yang bisa saya gunakan. Saya juga sudah menghubungi saudara dan teman  yang ngekost di Malang, teman yang berada di Banyuwangi, Bali dan Lombok. Dan saya memastikan hape saya selalu terhubung dengan internet, maka saya sedikit lebih PD untuk pergi sendiri. Nekat tapi ngga bodoh banget, begitu kira-kira haha.

Kemudian perjalanan saya dimulai dari Pare dengan naik bus kecil menuju Malang yang saat itu tarifnya hanya Rp. 15.000. Saya sampai Malang di malam hari dan janjian dengan saudara saya (sebenarnya itu sadara saudaranya saya wkwkw), pun malam itu saya menginap di kosannya.

Besok paginya saya melanjutkan perjalanan, setelah sarapan saudara saya mengantarkan saya ke terminal bus. Kemudian saya mencari bus Malang-Banyuwangi yang pada akhirnya tidak ketemu. Adanya juga bus menuju Situbundo. Sumpah saat itu saya bahkan tidak tau ada tempat yang namanya Situbundo. Dari Bapak yang persis duduk di sebalah saya, saya tau jika saya bisa transit di Situbundo dan mencari bus jurusan Banyuwangi dari Situbundo. Kabar baiknya adalah, saya bisa mengikuti beliau karena tujuan kita hampir sama (beliau tidak sampai Banyuwagi, tapi searah). Enaknya kalau kita sudah berkomunikasi dengan orang lain dan ngerasa mempunyai teman, ketika kami sudah berada di bus di terminal Situbondo dan saya ingin ke toilet (tidak terdapat bus di toilet). Bapaknya mau memastikan kalau bus tersebut akan menunggu saya, jadi saya bisa turun dahulu hehe.

Bapat tersebut sudah sampai tujuannya dan saya masih melanjutkan perjalanan sendirian (walau saya sudah sendirian sejak dari Pare sebenarnya). Sedikit degdegan, iya. Karena saat itu sudah semakin sore dan saya akan sampai di Banyuwangi malam hari dan saya akan melakukan penyebrangan ke Bali malam hari. FYI saya sangat takut laut, atau sebenarnya saya sangat takut melihat air dalam jumlah yang banyak, terutama di malam hari. Dan saat itu yang ada dalam benak saya, bahwa saya akan melakukan penyebrangan dengan kapal kecil. Duh gusti L. Kapal kecil dan laut, ah saya putuskan saya menginap saja di Banyuwangi malam ini dan menyebrang ke Bali esok ketika sudah terang. Maka ketika di bus saya sudah menghubungi teman saya dan mengatakan akan menginap di rumahnya. Dia dengan senang hati mengiyakan bahkan sudah menyiapkan kamar untuk saya.

Ditengah kemelut saya antara menginap atau tidak, dari kursi belakang saya mendengar suara cekikikan laki-laki yang terjadi berkali-kali. Ketika saya liatin mereka berhenti, dan kalau saya tidak melihat mereka akan cekikian lagi. Huh menyebalkan. Hingga akhirnya ketika maghrib bus akhirnya sampai di terminal Banyuwangi yang lokasinya dekat dengan Pelabuhan Ketapang. Semua penumpang turun dari bus, begitupun saya. Saya masih galau apakah akan menginap atau tidak, sedangkan sesungguhnya saya sangat ingin melanjutkan perjalanan langsung saja tanpa perlu menginap lagi. Di tengah kegalauan saya, saya melihat dua orang laki-laki turun dari bus yang sama dengan saya  dan keduanya memanggul keril di punggung mereka ‘Ah they must be backpacker too, lah itu si Mas yang cekikikan -_-‘. Modal nekat saya menghampiri mereka “Mas, mau nyebrang ya?”. Wajah mereka sedikit kaget, tapi tetap menjawab “Iya Mba”. Saya langsung kesenengan “Saya juga mau nyebrang Mas, boleh bareng ngga?” Mohon saya. “Oh boleh kok. Emang Mbanya mau kemana?” Tanya teman Mas cekikikan “Saya mau ke Lombok”. Jawab saya lagi. “Sama Mba, kita juga mau ke Lombok” Jawab si Mas cekikikan yang ternyata bernama Umar dan temannya bernama Jembret (sebenernya namnya Zainuri, saya liat di KTPnya haha). Begitulah kami akhirnya menyepakati saya akan bersama dengan mereka.

Kami kemudian berhenti di musholla, beres-beres sekalian sholat. Kemudian saya mengabari Mama bahwa saya akan melanjutkan perjalanan malam ini dan saya menemukan teman. Sedikit interogasi yang bisa saya jawab (“dia sholat ga”? Pertanyaan jenis apa itu. Ini kan partner backpacker, bukan partnerhidup Maaaa -_-. Tapi syukur si masnya sholat), kemudian saya mendapatkan izin. Setelah sholat dan beres-beres serta packing ulang, kami pergi ke minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Setelahnya kami membeli tiket kapal. Wow biayanya hanya Rp. 8000. Bikin saya terkaget-kaget haha. Setelah mendapatkan tiket kami menuju kapal, DAN KAPALNYA GUEDEEEE BANGET SODARA-SORARA. Saya cuma  menertawakan diri sendiri di dalam hati, ‘yaelahkalau kapalnya gede begini, gue juga berani sendiri’ batin saya jumawa.

Karena saya mengikuti mereka, jadi saya beneranmengikuti mereka saja juga ketika menentukan tempat tinggal kami selama berada di kapal. Dan mereka memilih di dek paling atas kapal. Di sanalah kami bersama orang-orang lain dan serombongan keluarga Bali yang baru selesai berziarah di Bromo. Perjalanan Ketapang-Gili Manuk hanyalah 2-3 jam, jadi kami tidak tidur selama perjalanan.

Kami sampai Gili Mnauk jam 12.00 WITA dan masih menunggu hingga pukul 04.00 WITA untuk bisa berangkat dengan bus yang akan membawa kami ke pelabuhan Padang Bai. Selama menunggu bus kami memakan cemilan dan Jembret serta Umar membuat kopi, well mereka membawa nesting juga kompor. Wahh mereka benar-benar sudah niat dan well prepared, sangat berbanding terbalik dengan saya J. Selama 4 jam kami bercerita banyak hal dan mulai mengetahui satu sama lain. Ternyata mereka bagian dari komunitas Jatim Backpacker dan melakukan perjalanan eksplore Lombok ini dengan teman-temannya. 13 orang teman lainnya sudah berada di Lombok sejak beberapa hari yang lalu, dan mereka berdua adalah orang-orang yang menyusul.

Tak terasa jam 4 akhirnya tiba juga, kami berangkat menuju Padang Bai dengan bus yang bertarif RP. 60.000 Gili Manuk–Padang Bai dan Rp. 40.000 Gili Manuk-Denpasar. Jam 7 kurang kami sampai di pelabuhan Padang Bai, Bali (kami sedikit terlambat turun karena HP saya sempat menghilang (ternyata nyelipdi kursi, ada-ada saja). Bersih-bersih dan sholat shubuh yang terlambat di masjid yang di pelabuhan, kemudian kami sarapan sekalian refill air haha. Selanjutnya kami membeli tiket kapal dengan tujuan pelabuhan Lembar, Lombok. Kali ini perjalannya lebih lama, 4-5 jam dengan biaya RP. 45.000.

Ketika di kapal saya sudah mencoba menghubungi teman saya (Laili) yang nantinya akan menjadi hostsaya ketika berada di Lombok, namun entah kepada tiba-tiba dia tidak bisa dihubungi, padahal sebelumnya komunikasi kami lancar-lancar saja. Bahkan ketika kami sudah di Kapal menuju Lombok. Kemudian saya mulai panik. Akhirnya Jembret menyarankan sebaiknya saya ikut dengan mereka saja dulu ke Rumah Singgah selagi saya terus menghubungi teman saya. Saya yang ketika itu tidak punya pilihan lain yang lebih baik, akhirnya menyetujui saja.

Di Rumah Singgah Lombok kami bertemu dengan banyak orang, para traveller yang backpacker-an ke Lombok. Ada yang seperti Jembret dkk, yang hanya ingin mengeksplore laut dan pantai saja, juga ada yang ingin naik ke Rinjani, tapi tidak ada yang seperti saya, cuma kepengen ke Gili Trawangan. Sangat tidak visioner. Sebagai informsi, kita tidak perlu membayar apa-apa jika ingin stay di Rumah Singgah Lombok, yang perlu kita lakukan hanyalah menjaga attitudedan usahakan untuk tetap tertib dan membantu apa yang bisa dibantu. Di Rumah Singgah Lombok, kami juga mendapatkan banyak sekali informasi terkait wisata Lombok yang dijelaskan oleh Mas Duta dan mas-mas lainnya. Bahkan salah satu dari mereka mau menemani saya ke Gerai Telkomsel guna memperbaiki sim cardsaya yang bermasalah. Ah mereka baik sekali.

Sampai saya selesai bersih-bersih dan teman dari Jembret sudah datang untuk menjemput, Laili masih belum bisa juga dihubungi. Akhirnya saya ikut rombongan mereka, well bukan saya saja ternyata. Kami bertemu satu perempuan asal Karawang di Rumah Singgah, namanya Mba Dian. Mba Dian kemudian juga ikut bersama rombongan kami.

Teman-teman Jembret dari komunitas Jatim Backpacker ternyata sudah menyewa rumah di Lombok untuk tempat tinggal mereka yang jumlahnya memang banyak. Ketika saya sampai di sana pertama kali mereka sedang makan malam, dan kamipun langsung bergabung setelah sebelumnya saya dan Mba Dian berkenalan dengan yang lain. Setelah makan kami bersitirahat untuk aktivitas besok.

Tiga hari selanjutnya kami mulai mengeksplore Lombok, dimulai dari Tanjung Ann, Gili Kendis, kemudian malam tahun baruan camping di pantai Senggigi dengan pemandangan 3 Gili. Sampai mengunjungi Air Terjun Sindeng Gile yang katanya terdapat harimau mengaum. Karena waktunya sudah sangat lama berlalu dan saya waktu itu tidak langsung menulis tulisan mengenai perjalanan saya ke Lombok, maka saya sudah lupa secara detail tempat-tempat keren yang kami kunjungi saat itu. Ditambah handphone saya yang hilang setelah kepulangan saya dari Lombok, maka bukti fisik perjalanan juga ikut hilang huhu.

Namun yang pasti 3 hari dua malam saya bersama dengan mereka, mengikuti setiap rencana mereka dan mengunjungi tempat-tempat keren di Lombok. Namun yang paling menarik dari hal tersebut adalah, saya hanya diminta bayaran (untuk ikut patungan) sebesar Rp 250.000. Murah sekali bukan untuk ukuran eksplore Lombok dan sudah dapat transportasi juga penginapan haha. Sesungguhnya disitu pertama kali saya mengenal istilah share cost, istilah yang begitu akrab di kalangan member Backpacker Jakarta.

Kemudian rombongan sempat terpisah, karena kami belum berkunjung ke Pulau Kenawa sedangkan anggota kelompok yang lain sudah. Well saya pertama kali tau tentang Pulau Kenawa ketika di Rumah Singgah. Dari penjelasan yang disampaikan dan foto yang ditunjukkan Mas Duta, saya langsung jatuh cinta sama Kenawa dan berikrar harus ke sana. Maka tujuan saya bertambah menjadi Gili Trawangan dan Pulau Kenawa.

Akhirnya saya, Jembret, Mba Dian dan Umar pergi ke Kenawa. Niatnya kami akan camping di Kenawa, mengikuti teman-teman yang lain. Karena Kenawa yang dulu hanyalah pulau kosong tak berpenghuni, berbeda dengan Kenawa sekarang (April lalu saya baru ke sana lagi). Dari Lombok kami mengendarai motor sampai Pelabuhan Kayangan, dan menyebrang ke Pulau Pototano. Selama di kapal masalah muncul, saya sakit perut. Sakit perut yang bikin pengenbolak balik toilet. Wah itu bencana banget dan sungguh sangat merepotkan onrag-orang. Sampai akhirnya Umar rela nyari daun jambu buat saya, katanya itu ampuh. Dan ntah bagaimana ceritanya dia berhasil mendapatkannya sesampainya kami di pelabuhan Potonato. Melihat keadaan saya, akhirnya rencana buat bermalam di Pulau Kenawa dibatalkan. Kami akhirnya menginap di rumah Bapak yang akan mengantar kami ke Pulau Kenawa. Jujur waktu itu saya sudah sangat tidak enak kepada teman-teman, karena saya, rencana berubah. Tapi Jembret cuma bilang “Oalah nduk, kamu itu kalau ngga ketemu kita ya gimana” Ahhh aku terharuuuuuu ;))).

Setelah dari Kenawa kami berpisah. Umar, Jembret dan Mba Dian harus kembali karena sudah harus bekerja. Sedangkan saya, melanjutkan perjalanan ke tujuan utama saya, Gili Trawangan. Well saat itu Laili sudah bisa dihubungi, akhirnya kami bertemu dan dia mengantarkan saya ke Pelabuhan untuk menuju Gili Trawangan. Di kapal yang akan membawa saya ke Gili Trawangan, kembali terjadi kejadian yang tidak akan saya lupakan. Sudah saya katakan di awal kalau waktu itu saya takut laut. Kapal yang membawa saya ke Gili Trawangan adalah kapal sedang, lebih besar dari sampan tapi jauh kecil dari Pelni. Dan kepergian saya ke Gili Trawangan itu sore sekitar jam tiga/empat, saat air laut mulai pasang. Di tengah perjalanan dan kami sedang berada di tengah lautan, terjadi gelombang air. Beneran gelombang air yang tinggi sekali (seandainya kapal tidak berterpal, pastilah air sudah masuk ke dalam kapal), dan kapal sudang sangat terombang ambing. Beberapa penumpang sudah muntah dan hampir semua sudah mulai menggunakan life jacket. Saya sendiri memilih diam, diam karena ketakutan. Namun ada satu perempuan kulit putih di sebelah saya yang duduk dengan tenang (sedari naik pertama kita sudah saling sapa), kemudian saya bertanya “It is okay?” “Ya, it is okay, it always happen” katanya. Berpatokan kepada dia dan dia selalu menenangkan saya, saya memilih tidak menggunakan life jacket, karena… jujur bau -_-. Tapi sesungguhnya pada saat itu, saya hampir membuat surat wasiat J. Dan taukah kalian, sesampainya saya di Gili Trawangan, saya baru mendapat info kalau badai yang sebelumnya saya rasakan itu beneran dan sangat berbahaya. Bahkan semua penyebrangan setelah saya sampai ditiadakan. Penyebrangan kemanapun dengan menggunakan kapal apapun. Tuhan masih kasih saya kesempatan hidup…

Di kerumunan orang-orang yang tidak bisa menyebrang itulah kemudian saya bertemu kembali dengan teman-teman saya yang sudah duluan ke Gili Trawangan, kanmereka ga bisa nyebrang hehe. Akhirnya malam itu saya menginap lagi dengan mereka, pengianapan saya malam itu gratis jadinya hahaha.

Besoknya teman-teman semua pulang dan saya sendirian, kali itu saya benar-benar sendirian. Solo backpacker yang sesungguhnya di suatu pulau yang dari dulu ingin saya kunjungi. Rasanya asing menjadi perempuan berhijab sendirian ditengah orang-orang yang menggunakan bikini, rasanya seperti bukan di Indonesia. Maka pagi itu setelah mencari sarapan, saya memutuskan mencari penginapan. Setelah berselancar di internet, saya memutuskan menginap di hostel dengan system dormitory. Apalagi alasannya selain saya yang penakut tidur sendirian, ah ya disamping harganya murah tentu saja. Saya menginap di Gili Hostel dengan biaya 150.000. ketika memesan kamar saya ingat resepsionisnya berkata begini “Mba yakin au nginapsini?” “Iya mas” “Beneran mba?” “Iya mas, kenapa sih? Saya udah capek banget nih” “Cuma mba tau, yang orang Indonesia” …membuat saya berfikir sejenak, lantas “Gapapa deh mas, tapi saya tidurnya di tas boleh? Dan kalau bisa sebelah saya cewek” dan si resepsionis bersedia membantu saya. Walau kemudian, pada kenyataannya, sebelah saya kemudian adalah lelaki Eropa yang ramah dan menghamparkan semua isi tasnya di lantai -_-. Dia pindah atas inisiatif sendiri, tanpa sepengatahuan pengelola hostel. Baiklah.

Gili Trawangan

Sore itu saya duduk di pinggir pantai, menikmati setiap suasana dan mengirup setiap udara. Memjamkan mata dan mulai membayangkan semua adegan yang ada dalam buku Sunset Bersama Rosie. Saya benar-benar melakukannya! Walau akhirnya saya sedikit kecewa dengan penampakan Gili Trawangan yang sangat di luar ekspektasi saya. Lantas kemudian saya tidak pernah merekomendasikan Gili Trawangan kepada siapapun hehe.

Namun kecewa saya tidak bertahan selamanya, terutama bila mengingat segala kenangan manis dalam perjalanan itu. Karena Gili Trawangan pada akhirnya saya memutuskan untuk solo backpacker dan berpetualangan sesuka hati saya. Itu kemudian menjadi pengalaman pertama saya dalam dunia solo backpacker berikut pengalaman saya jaan-jalan dengan orang asing. Dan hal tersebut sangat berarti bagi saya, juga memberikan banyak sekali pejalaran serta pengalaman serta teman baru bahkan sahabat. Bahkan saya masih berkomunikasi aktif dengan beberapa orang dari komunitas tersebut. pun setiap saya akan pergi ke Surabaya, wajib hukumya saya menghubungi Angga begitu juga sebaliknya. Ah perjalanan itu memang penuh pengalaman, sangat berharga dan penuh kejutan.

Tidak terasa, tulisan ini akhirnya menjadi sangat panjang, tadinya ingin dibagi menjadi dua bagian, tapi khawatir orang menjadi pensaran (saya kepedean). Kalau kamu, apa ‘hal pertama kali’ yang kamu masih ingat dan ingin kamu bagikan ke orang?

Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!