KETAKUTAN YANG MEMBANTU

Penyesalan itu adanya di akhir, karena kalau di awal Namanya pendaftaran. Masing-masing kita pasti pernah mendengar kalimat tersebut, seperti auto-answer setiapkali sebuah penyesalan terjadi. Penyesalan merupakan salah satu perasaan yang tidak ingin kita rasakan, karena rasanya tidak enak. Kebayang-banyang terus dan mengakibatkan berandai-andai, ah rasanya beneran tidak enak. Andai saja begini, andai saja begitu. Coba saja begini, coba saja tidak begitu. Serta pengandaian dan pengibaratan lainnya. Saya beberapa kali mengalamainya, jadi saya tau betul rasanya.

Bisa dikatakan bahwa mengalami penyesalan adalah salah satu ketakutan terbesar bagi saya, mengalami penyesalan loh ya bukan mengalami kegagalan. Karena saya tipe yang percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki jatah gagal kita sendiri yang harus dihabiskan, baru kemudian kesuksesan itu muncul. Bisa jadi kita sudah berlaku serta melakukan hal yang paling sempurna namun ternyata ada faktor X yang menghalangi dan berada di luar dari kuasa kita, hingga muncullah kegagalan tersebut. Sedangkan bagi saya penyesalan itu muncul karena keteledoran kita, karena persiapan yang tidak optimal maupun hal lain yang sebenarnya cacatnya berasal dari kita.

Ketika kegagalan yang terjadi muncul karena kita, berasal dari kita, maka penyesalan akan selalu menghantui. “Ah andai saja aku bisa lebih konsisten, ah andai saya aku bisa lebih optimal, ah andai saja aku tidak terlalu percaya, ah andai saja aku bisa push beyond the limit” serta pengandaian-pengandaian lainnya. Bagi saya, rasa penyesalan itu merupakan hukuman terberat yang dirasakan manusia. Bagaimana kita menghabiskan masa hidup dengan rasa penyesalan yang tak kunjung usai, perasaan sesal yang terus menghinggapi dan tetap ada. sebagai contoh, kamu pernah melakukan kesalahan? Melakukan dosa? Setelah kamu sadar bahwa apa yang kamu lakukan adalah salah, kamu akan menyesal. Kamu mengaku salah dan kamu bertobat, perasan lega itu ada, tapi perasaan menyesal akan selalu lebih mendominasi. Untuk kemudian kamu akan mulai menyalahkan diri sendiri serta membodohi diri sendiri. “Bego banget sih, harusnya ngga melakukan itu”.

Karena takut akan merasakan penyesalan, maka baiknya kita mempersiapkan sesuatu dengan persiapan yang terbaik. Itu yang saya lakukan, mempersiapkan semuanya dengan baik dan selalu memikirkan semua tindakan yang akan saya lakukan. Termasuk di dalamnya memikirkan konsekuensi atas semua tindakan yang saya lakukan, nilai lagi sisi positif serta negarifnya, keuntungan dan kerugian yang akan ditimpulkan serta pertimbangan-pertimbangan logis lainnya.

Ternyata tidak semua ketakutan itu mengakibatkan luka, ternyata tidak semua ketakutan itu menyebabkan nestapa. Ketakutan yang saya alami justru menjadikan saya pribadi yang berhati-hati, yang selalu mempertimbangkan banyak hal dalam bertindak, walau saya akui bahwa seringnya saya tidak terlalu memikirkan banyak hal sebelum berkata. Semoga ke depannya saya juga bisa menerapkan konsep untuk berfikir panjang sebelum mengeluarkan kata, kalimat bahkan statement.

You may also like...

5 Responses

  1. febi berkata:

    iya, terutama pas lagi ngerasain emosi marah yah, kalo menurut pengalaman gw pribadi, biasanya kata – kata yg keluar itu biasanya 99% bikin nyesel..hehe.
    jadi kalo sekarang gw lagi marah, mending gue “ngumpet di goa” gw dulu alias nenangin diri dengan diem di kamar sambil dengerin musik rileksasi..
    pas udah tenang, baru keluar kamar lagi..
    lumayan buat minimalisir penyesalan :p

  2. Mrs.kingdom17 berkata:

    Hahahaha….sering begini….ahh coba tadi aku diem aja, ah coba tadi aku gak begitu dll….tapi ya namanya manusia kita memang tidak luput dari kesalahan…..jadi aku belajar introspeksi diri aja..semoga kita semua masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri…

  3. Mamak Rempong berkata:

    setuju, ketakutan itu tidak selalu membawa luka, dia bisa jadi blessing. paling ngga makin mendekatkan kita sama Tuhan.

  4. Tuty Prihartiny berkata:

    Suka banget baca tulisan kak rara ini, terutama pada kalimat : Ketakutan yang kakak alami justru menjadikan diri kakak pribadi yang berhati-hati, yang selalu mempertimbangkan banyak hal dalam bertindak.. how meaningful

  5. hallowulandari berkata:

    Tapi terkadang aku ngerasa suka skip dan grusa-grusu juga ya dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu, kadang lebih banyak didorong sama emosi sesaat, akhirnya yaa berujung pada penyesalan2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *