INI SEMUA KARENA PAPA DAN KELUARGA PAPA!

Saya ingat bahwa sejak kami kecil, Papa Mama kerap sekali menyodori kami dengan banyak buku bacaan, ntah itu majalah AAS (Aku Anak Sholeh) yang hits pada jaman saya dahulu atau juga koran serta buku cerita anak. Iya, koran juga. Keluarga kami sudah terbiasa langganan koran sejak dahulu hingga saat ini, di era digital yang semua serba online dan menggunakan device elektronik. Bisa dikatakan bahwa kegiatan gemar membaca itu sudah tertanam di keluarga besar kami, bukan hanya keluarga inti kami, tapi semua keluarga besar.

                                                          Tidak semua, tapi ini sebahagian foto keluarga besar kami

Saya ingat sekali kalau dahulu ketika Poli (Kakek dalam Bahasa suku Pakpak) selalu membaca koran setiap pagi, ditemani dengan kopi susu dalam gelas besar berwana hijau (ah ya ketika besar saya baru paham kenapa gelasnya besar, ternyata hampir semua cucunya suka minum dari gelas tersebut hahaha). Lihat, Poli saya juga selalu langganan koran dan selalu membawa koran ketika pergi ke ladang (perkebunan) miliknya. Belum lagi koleksi buku Poli yang ada di kamar dan sesekali saya pinjam serta kami diskusikan di masa itu.

Papa saya juga suka membaca, membaca semua buku walau rasanya saya tidak pernah melihat Papa membaca novel (mungkin karena sudah tau kali ya). Setiap pagi, koran selalu menjadi hal yang Papa cari. Belum lagi koleksi buku lain yang ada di rumah dimulai dari buku keagamaan, filsafat hingga buku hilangnya atlantis hahaha. Bahkan Papa sudah selesai membaca terjemahan Al-Quran, hal yang bikin saya takjub juga iri. Kapan giliran saya?

Walau mungkin tidak semua sepupu saya suka membaca, tapi rata-rata dalam setiap anggota di dalam keluarga saya pasti ada yang suka membaca. Saya ingat sekali waktu kecil saya suka baca majalah Bobo di rumah sepupu saya Dinda, karena Mama tidak mengizinkan kami langganan Bobo, jadi saya selalu baca Bobo di rumah Dinda. Abang dan kakaknya Dinda juga suka membaca, Bang Elol dengan koleksi majalah Sabili-nya serta Kak Ina dengan koleksi komik Doraemon-nya. Ah selain Kak Ina, Kak Kiki juga punya banyak koleksi komik Doraemon. Saya sering pinjam ketika saya nginap di rumahnya, selain komik Doraemon kak Kiki juga mengoleksi novel-novel tebal tapi tidak berat. Ada juga Kak Ana, kakak sepupu saya yang lain yang dahulu juga punya banyak sekali koleksi majalah Sabili, sepertinya lebih banyak dari koleksi majalah Sabili Bang Elol. Bahkan kamarnya sudah seperti museum majalah Sabili.

Adik saya, Alin suka sekali baca komik Conan dan novel Sherlock Holmes, serta cerita-cerita detektif lainnya. Alin juga suka komik-komik Jepang yang satu halaman hanya berisi “aaaaaa” saja sebanyak dua halaman novel, jujur saya tidak begitu suka komik sih haha. Alin punya kembaran sesama penyuka komik Jepang, yaitu Arief sepupu saya lainnya. Dia juga suka sekali membaca komik Jepang. Kalau kakaknya Arief, Marwah cenderung sama saya sepertinya, cenderung suka novel yang bisa bikin berimajinasi hahaha. Eh saya juga masih punya sepupu lain yang suka novel namun dalam kelas yang lebih berat dan kebanyakan novelnya Bahasa Inggris, Kak Kiki namanya. Iya, saya punya dua orang kakak sepupu yang namanya Kiki.

Namun dari semua kakak sepupu saya ada satu kakak sepupu yang benar-benar panutan soal membaca, Kak Pipit Namanya. Kak Pipit bukan hanya suka membaca, tapi juga sudah menulis buku. Wow! Kak Pipit adalah role model saya, suka membaca dan punya anak yang semuanya juga suka membaca. Bahkan Kak Pipit punya perpustakaannya sendiri loh, keren sekali kan. Kalian bisa baca cerita Kak Pipit di sini http://rakhairiyah.com/bagaimana-agar-anak-gemar-membaca/

Saya memahami betul bahwa output dari membaca adalah menulis, ketika kita membaca maka kita akan suka menulis. Ketika kita menyerap banyak tulisan, tentunya kita akan ingin mengeluarkan bacaan kita tersebut. Nah proses mengeluarkan bacaan yang sudah kita terima pada dasarnya bisa dengan menulis atau berbicara. Kalau saya pribadi cenderung untuk mengeluarkan hasil bacaan saya dengan menulis, karena dengan menulis saya bebas untuk menjelaskan sedetail mungkin sesuai dengan sudut pandang dan imajinasi yang saya bangun dari bacaan yang saya baca.

Tidak tau pastinya kapan saya suka menulis, tapi yang jelas saya sangat menikmati ketika saya mengeluarkan semua hal ke dalam bentuk tulisan. Rasanya lebih dapat saja perasaannya dan lebih tersampaikan saja pesan yang ingin saya sampaikan. Dahulu dimulai dari menuliskan keseharian, perasan serta keluh kesah di diary (yang sering sekali dicuri baca oleh adik saya), kemudian suka menuliskan kekesalan dan perasaan di status sosial media (ini adalah zaman jahiliyah sebelum paham bahwa jejak digital tidak akan pernah hilang), hingga di masa sekarang saya memiliki blog sendiri yang masih belum saya rawat seperti anak sendiri.

Oh ya berbicara tentang healing-healing yang belakangan ini sangat hits di kalangan anak muda Indonesia, menulis adalah cara healing yang baik mudah dan murah menurut saya (selain tidur tentunya). Kamu hanya perlu menuliskan hal-hal yang kamu rasakan sebebas mungkin dan menyimpannya jika perlu atau bisa menghapusnya. Banyak psikolog yang menyarankan healing melalui menulis, karena biayanya yang cenderung murah, mudah dilakukan juga terasa impact-nya.  Dari pada kamu healing dengan belanja gila-gilaan di e-commerce atau mall, mending nulis kan? Bagaimana, kamu kenapa suka menulis? Atau kamu kenapa tidak suka menulis?

You may also like...

1 Response

  1. Febi berkata:

    Suka banget menulis..
    Banyak manfaat buat diri sendiri n bisa dishare ke orang lain 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.