Akhirnya Bisa Berkunjung Ke Puncak Jaya (1)

“Kalau ngga jadi ke Puncak Jaya, baiknya saya tidak usah pergi ke Papua saja” Perkataan saya waktu itu ketika ada wacana bahwa saya tidak jadi ke Puncak Jaya. Perkataan tersebut memang sedikit mengandung ancaman, walau bukan hanya sekedar gertakan karena saya beneran akan melakukannya. Bukan apa-apa, masalahnya saya sangat kepengen ke Puncak Jaya, dan sudah dijanjikan untuk pergi ke sana. Saya sudah pernah pergi ke Jayapura dan Sentani sebelumnya, jadi kalau hanya ke Sentani dan Jayapura ah rasanya saya enggan. Disamping sudah pernah, Sentani dan Jayapura juga suasananya sudah seperti kota kebanyakan, sangat jauh jika dibandingkan dengan Puncak Jaya.

Akhirnya setelah drama yang cukup panjang dan cukup memakan emosi serta perasaan, akhirnya saya bisa berangkat ke Papua, tentu saja Puncak Jaya juga termasuk. Di masa pandemi masuk ke Puncak Jaya lumayan susah, selain kita harus melaksanakan tes swab PCR kita juga harus punya surat undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Dan cara untuk mendapatkan surat undangan tersebut, kita harus memiliki “pengajak” yang biasanya dari pihak pemerintah atau aparat. Jadi nanti si pengundang tersebut yang menjadi penanggung jawab kita selama berada di Puncak Jaya. Ribet? Lumayan sih. Masuk Puncak Jaya jadi berasa mau ke luar negeri ya, kudu pake pengundang hahaha. Tapi masuk akal juga sih kalau melihat alasannya dan territorial wilayahnya, Puncak Jaya itu kan wilayahnya di pegunungan dengan fasilitas kesehatan tidak begitu lengkap. Kebayang gimana kalau kita bawa covid ke sana, akan jadi beban masyarakat bukan.

Maka setelah melengkapi berkas swab PCR dan berkas undangan, saya berangkat ke Papua. Saya sampai di Sentani, Papua pada hari Jumat tanggal 4 Desember 2020. Saya menginap dahulu di Sentani 2 hari kemudian hari Senin tanggal 7 Desember saya langsung berangkat ke Puncak Jaya. Saya berangkat ke Puncak Jaya dengan pesawat kecil, dan ini benar-benar pengalaman pertama saya naik pesawat kecil dengan kapasitas hanya 8-9 orang saja. Sewaktu berangkat saya menggunakan pesawat Sam Air. Oh ya, ada tiga penerbangan komersil yang tersedia ke Puncak Jaya, dengan harga dan fasilitas yang berbada tentu saja. Selain Sam Air ada juga Alda Air, dan satu lagi yang saya gate namanya dan belum pernah naik juga.

Naik pesawat komersil kecil ternyata sangat banyak perbedaannya dengan pesawat komersil biasa, dimulai dari beli tiket. Setau saya tidak ada pembelian tiket online untuk maskapai Sam Air yang saya naiki. Jadi kita harus datang langsung ke bandara untuk membeli tiket, dan langsung menghubungi pihak maskapai. Sewaktu itu saya sudah dicarikan tiket sama ‘pengundang’ saya dari Puncak Jaya, jadi seharusnya saya tinggal berangkat. Namum masalah kemudian datang ketika pihak maskapai mengatakan bahwa tiket saya belum dibayar (walau ternyata terdapat miss communication, karena ternyata tiket kita sudah dibayar di Puncak Jaya. Namun karena di Puncak Jaya susah sinyal, jadi informasinya belum sampai ke pihak maskapai yang ada di Sentani).Waktu itu akhirnya kita bayar ke pihak maskapai, dan shock. Gimana tidak shock akhirnya saya tau harga tiket sekali berangkat itu Rp. 3 juta. Wah! Bahkan tiket ke negara tetangga saja tidak sampai begitu.

Setelah pembayaran tiket dan pemeriksaan surat swab selesai, selanjutnya adalah proses penimbangan. Jadi kalau kita naik pesawat kecil, kita dan barang harus ditimbang semua. Maksimal timbangan satu orang maksimal 100kg. Syukurnya dosa tidal ikut ditimbang guys, jadi aman. Kita tetap menunggu di kantor Sam Air hingga pihak maskapai akan membawa kita masuk ke bandara dengan menggunakan mobil minibus. Perjalanan kita dari waiting room hingga pesawat juga naik mobil minibus, jadi kita tidak jalan kaki. Jadi perlakukannya agak berbeda dari naik pesawat komersil biasa, bahkan ada sistem nunggu penumpang juga hahaha. Jadi penumpangnya ditunggu, baru pesawat jalan. Kapan lagi yakan.

Setelah penumpnag dirasa lengkap kamipun naik ke pesawat, saya merasa agak lama waktu yang dibutuhkan dari naik pesawat hingga akhirnya pesawat take off. Bahkan ada beberapa orang yang menungguin hingga pesawat tersebut terbang (belakangan saya baru tau alasannya). Akhirnya pesawat kami terbang mengangkasa dan meninggalkan Sentani. Pemandangan selama terbang sungguh mengangumkan, kami melewati hamparan hutan yang sangat lebat juga sungai besar yang memanjang seperti ular. Benar-benar pemandangan yang sangat menakjubkan dan rasanya sangat sayang untuk tidur. Terlebih tepat di belakang saya duduk seorang Bapak OAP (Orang Asli Papua) yang sangat ramah, beliau mau emnjelaskan semua tempat yang kami lihat dari ketinggian.

Sungai-Sungai yang seperti mengular. Dari ketinggian saja terlihat sebesar itu, jadi penasaran bagaimana dengan ukuran aslinya

Perjalanan selama satu setengah jam tersebut akhirnya selesai, dan kami sampai Puncak Jaya dengan selamat. Alhamdulillah-nya selama kami dalma penerbangan cuaca sangat mendukung dan langit sangat cerah. Jadi walau terbang dengan pesawat kecil, kami saya tidak merasakan goncangan yang berarti. Setelah saya sampai di Puncak Jaya, ternyata saya baru tau kalau pesawat yang kami naiki ternyata bermasalah, HAHAHA ternyata itu alasan kami lama berangkat. Karena salah satu baling-baling pesawat tersebut tidak bisa beroperasi dengan sempurna. Rasanya pengen marah tapi yaudahlah ya. Wajar saja orang yang menunggu kami di Puncak Jaya sudah sangat khawatir dan panik. Kebayang kalau pesawat itu jatuh/ tentu saja saya tidak bisa menuliskan cerita ini saat ini hehe.

Sesampainya di Puncak Jaya saya disambut dengan udara sangat dingin walau tidak sampai membuat menggigil (malamnya baru menggigil haha). Kegiatan hari pertama di Puncak Jaya saya habiskan berkeliling kota dan istirahat. Akan saya gambarkan sedikit soal Puncak Jaya dan kota Mulia sebagai ibukota Kabupaten Puncak Jaya. Puncak Jaya adalah salah satu Kabupaten yang terdapat di wilayah pegunungan tengah Papua, atau disebut juga dengan Pegunungan Sudirman. Kalau teman-teman pernah mendengar Gunung Cartenz? Nah Puncak Jaya ini adanya di kaki Cartenz, jadi kebayang dong ya seperti apa dinginnya Udara di Puncak Jaya. Mayoritas suku yang mendiami wilayah Puncak Jaya adalah Suku Dani, sebagai suku asli yang mendiami wilayah pegunungan tengah Papua. Nsh Ibukota dari Puncak Jaya adalah Mulia.

m,

Pemandangan di Kota Mulia Tengah

Kota Mulia terdiri dari tiga bagian, Mulia Atas, Mulia Tengah dan Mulia Bawah (Namanya emang sisimpel itu hahaha). Bandara, Rumah sakit, mayoritas warung makanan, dan beberapa toko terletak Mulia Bawah. Sedangkan Mulia Tengah diisi oleh sekolah, kantor TNI dan beberapa Toserba yang besar-besar. Sedangkan Mulia Atas diisi oleh hampir pusat pemerintahan seperti Kantor Bupati, Kantor DPR dan Kantor Polisi. Kotanya dingin (bahkan terlalu dingin menurut saya), kalau kulit saya kena air rasanya kebas . Di Puncak Jaya tidak ada angkot, yang ada itu ojek (ojek ya, bukan gojek). Nah yang menarik dari ojek ini adalah soal tarifnya, jadi tarif yang dikenakan itu hanya Rp.10ribu dan Rp. 20ribu. Kalau mau pergi naik (dari Mulia Bawah ke Mulia Tengah/Atas) tarifnya Rp.20ribu, sedangkan kalau menggunakan ojek untuk turun ke bawah tarifnya Rp. 10ribu.

Cerita selanjutnya akan saya buat di halaman yang terpisah.

 

 

You may also like...

35 Responses

  1. febi berkata:

    Duh, pengalaman naik pesawatnya ternyata berner2 berkesan ya, bukan cuma karena pengalaman pertama kali naik pesawat kecil tapi juga karena ada “sesuatunya” disitu..hehe..

    Semoga kedepannya ngga takut cobain pengalaman baru lagi 🙂

    Nice post!

    • admin berkata:

      Hallo Kak Febi, iya nih. Pengalaman Puncak Jaya masih jadi pengalaman paling berksan yang aku alami di penghujung tahun 2020, walau degan pesawat rusak hahaha

  2. Ning! berkata:

    Ya Allah, kok horor banget kak naik pesawat rusak. Untung gak dibilangin pas berangkat ya, bisa ketar ketir selalu di dalem pesawat. Tapi alhamdulillah, nggak ada apa-apa dan selamat sampai tujuan.

    Tapi pesawatnya mihil banget gak sih kak itu? Berasa dipalak gak sih? Haha

  3. Rivai Hidayat berkata:

    Haii rara 😀
    Kamu ke puncak jaya dalam rangka apa..? Kok enak banget bisa melakukan perjalanan ke papua.
    Aku jadi ingat teman2ku yang tahun 2016 dan 2018 ada pekerjaan di daerah puncak jaya. Seru sih kalau dengerin cerita mereka. Apalagi mereka pergi juga sering dikawal aparat untuk jaminan keselamatan.

    aku belum pernah naik pesawat perintis model ini. Kalau baling-baling masih jenis pesawat atr-60. Lumayan berasa kalau ada guncangan dan ketika mendarat.

    jadi ga sabar untuk baca kelanjutannya. Mention aku yaa kalau kelanjutannya sudah publish…hehehehe

    • admin berkata:

      Hallo Kak Rivai, Saku kebetulan ada kerjaan ke sana. Jadi nyambi jalan-jalan hehehe, Menurutku Puncak Jaya emang seseru itu sih, tempat yang sangat layak dikunjungi jika kita ke Papua. Tapi emang selama di sana aku burada dalam pengawalan ketat dari pihak aparat juga sih hehe.

      InsyaAllah nanti aku mention ya kalau sudah ada kelanjutannya. Terima kasih banyak atas atensinya

  4. Deny Oey berkata:

    Wow, menarik sekali cerita tentang salah satu kota tertinggi di Indonesia ini. Papua memang sangat indah. So excited!

  5. Mariaa berkata:

    Wah, seru ya bisa main ke Puncak Jaya walaupun biaya tiket ke sana melebihi harga tiket ke negeri tetangga. Penasaran sama kelanjutan ceritanya seperti apa. Aku udah lama mau ke Papua, tapi belum kesampaian nih. Semoga suatu hari nanti bisa menginjakkan kaki ke Papua dan mudah-mudahan bisa ikut merasakan Puncak Jaya juga.

    • admin berkata:

      Waahhh semoga suatu saat Bisa kesampaian untuk menginjakkan kaki di Puncak Jaya ya Kak Mariaaaa. Puncak Jaya beneran tempat yang sangat amat layak dikunjungi menurutku.

  6. Firdaus Soeroto berkata:

    Raaaa jadi ke Papua lagi kapan nih? HAHAHA. Untung dosa gak ditimbang ya Ra waktu naik pesawat kalo gak lo gak bisa naik karena kelebihan muatan wkwkw canda~

    • admin berkata:

      Ayok dong, akhii Juli yukkk. sehalian liat festival Lembah Baliem haha

      Yang paling gue syukuri karena dosa tidak ditimbang juga sih, kalau ngga emang kayanya gue ga baal bisa naik. Huit

  7. Antin Aprianti berkata:

    Kak aku penasaran, kan untuk naik pesawat kecil itu maksimal timbangan satu orang 100kg. Jadi yang BB lebih dari ini nggak bisa ke Puncak Jaya dong ya? *seriuspenasaran

    • admin berkata:

      Sepertinya tetap bisa aja sih kak, tapi ya itu bayar kayannya. Karena kan ga semda penumpang juga mengambil jatah 100kg mereka. Jadi kayanya saling tutup lobang aja sih

  8. cha berkata:

    ih serem banget naik pesawat kecil kaya gitu, naik pesawat terbang yang rame banyak orang aj aku sering nya tidur dalam pesawat. Alhamdulillah neng rara kesampean ke puncak jaya dengan selamat

  9. Beni berkata:

    Aku penasaran sama kelanjutan ceritanya, tbh. Setauku yg banyak nanjak ke sana bule-bule, mungkin karena terkenal masuk 7 summits. Pernah baca2 juga kalo agak ribet ngurus izin dan mahal. Part 2 bisa diceritain kak, budget ke sana kira2 berapa hehe

  10. Talif berkata:

    Bener deh, kalau ke Papua harus ekstra budget ya. Setidaknya baca ini ada gambaran biaya pesawatnya. Penasaran cerita selanjutnya.

  11. Retno Nur Fitri berkata:

    Liat pemandangan dari atas awan tuh bener² cantikk, kapan bisa ngerasain kayak kak rara ya heheh

  12. Merry Olivia berkata:

    Wah aku jadi iri, ini keren banget sih pengalamannya. Pengen deh ngerasain naik pesawat kecil kaya gitu. Duh duh seru banget.

  13. Waduh..itu kalau tau di depan baling-baling ada masalah, mungkin semua penumpang pilih batal terbang ya…syukur ga kenapa-napa dan taunya belakangan.
    Seru bener nih perjalanan ke Puncak Jaya..ya ampun kebayang pemadangan dari atas pasti kerennya…
    Ditunggu kelajutan ceritanya

  14. Iqbal berkata:

    OAP itu kalau dengar2 ceritanya, ada yang baik yg dalam cerita di atas, tapi suka dengar cerita juga, ada yang bikin ngeri, sampai harus dikawal, dan bus dipakai teralis

  15. EkaRahmawatizone berkata:

    Agak ribet ya persyaratannya untuk ke Puncak Jaya. Ihhh saya belum pernah ke Papua. Paling jauh ke Sumatera.

  16. RULY berkata:

    Pengalaman yang sangat menarik Mba, tapi apakah disana sudah aman Mba, melihat diberita kondisi disana seringkali tidak kondusif.

  17. Clara Kinasih berkata:

    Pengalamannya seru sekali kakak. Wow itu pemandangan bumi papua dari udara benar” memukau yah kak. Nggak sabar baca cerita selanjutnya. ❤

  18. Dayu Anggoro berkata:

    Nice post, ternyata sesulit itu yah untuk berkunjung ke Puncak Jaya Papua.

  19. Nia Devy berkata:

    Banyak rulesnya ya kak klo di Papua, klo enggak ada orang dalem susah banget. Akhirnya wishlist tempatnya checklist juga kak. Seru juga naik pesawatnya, pas tau rusak agak deg-deg ser. Untung udah mendarat ya kak, klo belum bisa shalawatan doa2 sepanjang perjalanan.

  20. Tuty Prihartiny berkata:

    Duh kak Rara, saya deg-degkan baca pengalaman kakak naik pesawat di Papua. Btw, congrats ya kak … akhirnya sampai juga ke puncak jaya. Ups… seseru apa cerita selanjutnya ?

  21. Titi berkata:

    Ojeknya lucu yaa Ra. Hhe. Aku pikir awalnya puncak jaya tuuuh puncaknya Cartenz. Hhe

    Tapi sejujurnya aku iri ihh sebagai org yg gak pernah k timurnya indonesia

  22. Mrs.kingdom17 berkata:

    Woww keren banget bisa menempatkan kaki di puncak Jaya….meski penuh drama ya….wiihh penasaran nih next story kegnya tentang trekking ke puncak Cartenz dehh…

  23. Lenifey berkata:

    Jujur pas baca dan pas nyampe gambar sungai dari atas itu aku langsung spontan bilang wow. Gila sih itu dari foto aja bisa gitu. Gimana kalo liat langsung. Kayaknya aku nangis sih. Aku anaknya cenggeng. Haha. Trus gak nyangka harga tiket cawatnya mahal gilak. Ditunggu cerita selanjutnya kak.

  24. Lovelypink berkata:

    Mba beruntung banget yah bisa sampe ke kota ini. Mana perjalanannya penuh pemandangan keren euy. Emang harus nyiapin budget lumayan gede yah, cuma buat ke kota yang masih satu pulau. Padahal dengan harga segitu, kita uda bisa bertandang ke negara tetangga bolak balik. Terbaik memang!!

  25. Anni NS berkata:

    Wah perjalanan ke Puncak Jayanya seru ya. Terutama juga pengalaman naik pesawat kecilnya, pasti berkesan karena sudah pasti berbeda dengan pesawat yang biasa, sensasinya. Sungainya bagus dan memang bikin penasaran ya jadinya. Cerita dan kisah yang menarik kak.

  26. inez berkata:

    wah keren ya pengalamannya bs kesini…. budgetnya lumayan jg ya.
    Untunglah perjalanan lancar ya ga ada masalah dan sampai dgn selamat

  27. Pesawatnya nunggu penumpang? Kok aku ngebayanginnya kaya angkot gitu lho wkwkwk

    Seru banget Ra perjalanannya, ditunggu next ceritanya yaa

  28. duniamasak berkata:

    wah keren kak, aku belum pernah naik pesawat kecil. pasti seru banget ya 😀

Tinggalkan Balasan ke admin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *